Always on My Mind

Manchester di musim gugur memang indah meski sejauh mata memandang yang tampak hanyalah tumpukan daun gugur berwarna kuning keemasan dan berserakan di sepanjang jalan yang aku susuri. Hmm..udara dingin yang mulai menusuk sendi-sendi tulangku menimbulkan teriakan-teriakan halus dalam hatiku, “hot chocolate! I need my hot chocolate!!”..untung saja tidak jauh dari kampusku ada cafe kecil yang menyediakan aneka minuman hangat.

Aku duduk melamun sambil menikmati hot chocolate-ku..pikiranku melayang ke sebuah peristiwa, pada suatu masa, di suatu tempat…

–1–

“Martha?! Dimana kamu?!”, teriak Lucinda. Martha, putri semata wayangnya, yang sedang asyik bermain di halaman belakang rumah mereka, tidak menyadari kalau ibunya mencari sejak tadi.

“Martha?! Marthaaaaa…dimana kamu?! Sudah waktunya makan siang..”,  teriak Lucinda sekali lagi. “Hmh, anak ini kemana saja? Sulit diatur. Persis Ed”,  keluh Lucinda dalam hati.

Ed atau lengkapnya Edmund adalah mantan kekasih Lucinda, ayah dari si kecil Martha. Ed adalah seorang laki-laki berdarah bangsawan yang karena alasan “dijodohkan oleh orang tua” terpaksa meninggalkan Lucinda yang kala itu tengah hamil muda. Jangankan memintanya bertanggung jawab, meminta ia menunggu Lucinda hingga selesai persalinanpun sulit untuk dipenuhi Ed. Ia tidak berani menentang perintah kedua orang tuanya. Dan Ed sangat paham bahwa jika Ed tetap berkeras menikahi Lucinda maka ia akan kehilangan semua hak waris dan kenyamanan hidup yang selama ini ia miliki. Ia tidak mampu kehilangan semuanya itu, meski hanya untuk sebuah cinta…

–2–

Edmund Locksley adalah putra tunggal Earl Albert  dan Lady Marie Locksley. Terlahir dari keluarga bangsawan yang kaya raya, tanpa saudara kandung, membuat Ed terbiasa mendapatkan seluruh perhatian dari kedua orang tuanya. Apapun yang ia minta akan selalu dipenuhi oleh sang ayah.

Selepas dari secondary school, Ed melanjutkan studinya di Universitas Cambridge. Ia mengambil studi antropologi. Di universitas tersebutlah Ed bertemu dengan Lucinda Bello, seorang mahasiswi cantik asal Spanyol. Berbeda dengan Ed, Lucinda mengambil studi hukum. Mereka berdua pertama kali bertemu di acara pesta dansa mahasiswa yang diadakan oleh kampus mereka. Pertemuan pertama yang mengesankan, yang kemudian dilanjutkan dengan kencan-kencan kecil dan akhirnya berakhir dengan kehamilan Lucinda…

–3–

Lucinda Bello, adalah putri tunggal Carlos Bello, seorang diplomat Spanyol yang ditugaskan di Inggris untuk masa kerja 5  tahun. Lucinda berkepribadian tegas, lugas, cerdas, dan lincah. Karakter yang unik, yang jarang ditemui pada gadis-gadis muda Inggris.

Lucinda kecil sangat dekat dengan ayahnya. Itu sebabnya ketika ayah dan ibunya bercerai, Lucinda memilih untuk ikut dengan ayahnya, sementara kedua kakaknya memilih tinggal dengan sang ibu. Hubungannya dengan Ed sebenarnya tidak mendapat restu dari sang ayah. “Apa yang kau lihat dari laki-laki Inggris itu? Kepribadian yang tidak tegas, pengecut, dan kulit yang terlalu pucat. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di matanya!”. Itu yang selalu dikatakan ayahnya tentang Ed. Dan ayahnya benar…Ed lari dari tanggung jawabnya…

–4–

Tiga tahun berlalu sudah. Martha kecil sekarang sudah berusia 2.5 tahun. Lincah, cerdas, dan banyak bicara.  Tiba saatnya bagi Carlos Bello untuk pindah tugas ke tempat baru. Kanada. Lucinda berharap bahwa kepindahan mereka ke Kanada kelak akan menjadi awal yang baik baginya untuk memulai kehidupan yang baru bersama Martha.

Hari keberangkatanpun tiba. Dengan hanya diantar oleh beberapa teman dekat dan pejabat dari konsulat Spanyol di London, keluarga Bello berangkat  menuju Kanada dengan menggunakan kapal laut.

–5–

“Edmund. Ayo cepat turun!”,  suara Lady Marie memanggil Ed dari arah ruang makan. Disana sudah berkumpul ayah Ed beserta tamu mereka, keluarga Brightman. Kedua keluarga tersebut akan makan malam bersama sekaligus membahas tentang rencana pertunangan Ed dengan Caecilia, putri bungsu keluarga Brightman.

Caecilia adalah teman masa kecil Ed. Bagi Caecil, Ed adalah cinta pertama dan satu-satunya, sementara bagi Ed, Caecil hanyalah seorang sahabat. Namun apa mau dikata jika kedua orangtua mereka sepakat menjodohkan mereka?

Ed turun dari kamarnya dan segera menuju ruang makan. Ia berjalan dengan langkah gontai.

“Hallo Ed …apa kabar? Engkau terlihat pucat hari ini. Sakit?”, tanya Caecil ketika mereka duduk berdampingan di meja makan.  “Tidak”, jawab Ed singkat sambil tersenyum setengah dipaksakan.

Ed memang sedang murung beberapa hari terakhir ini setelah mendengar bahwa Lucinda dan Martha akan pindah ke Kanada. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba memenuhi hatinya. Entah kenapa ia merasa ada sebagian jiwanya yang hilang…

–6–

Kapal mulai perlahan-lahan meninggalkan pelabuhan Inggris untuk bertolak ke Kanada. Lucinda Bello dan para penumpang lainnya berdiri di anjungan kapal dan melambaikan tangan kepada para penghantar mereka. “selamat tinggal Britania, selamat tinggal luka lama…”,  ucap Lucinda dalam hati. Tanpa sadar ada dua butir air mata jatuh mengaliri di kedua belah pipinya…

–7–

Ed memacu kendaraannya secepat mungkin.”Aku harus melihat mereka untuk terakhir kalinya”, batin Ed. Terlambat! Saat mobilnya mendekati pelabuhan, kapal yang ditumpangi Lucinda dan Martha sudah berada di tengah laut.

“Lucindaaa…Marthaaa…selamat jalaaaaaan.”, teriak Ed. “selamat jalan…semoga kalian menemukan kebahagiaan disana”, lanjutnya dengan suara serak. “maafkan aku…maafkan aku…”, tangis Ed. Namun kata-kata tersebut tidak dapat didengar oleh Lucinda maupun Martha.

–8–

Setahun telah berlalu namun pernikahan antara Ed dan Caecilia tidak pernah terlaksana. Edmund Locksley meninggal dunia enam bulan yang lalu karena terjangkit penyakit kolera saat wabah penyakit tersebut melanda Inggris.

Sebelum meninggal Ed sempat meminta sahabatnya, Thomas Savage, untuk mengirimkan surat yang ia tulis untuk Lucinda yang dialamatkan ke konsulat Spanyol di Kanada. Dalam surat tersebut Ed menumpahkan seluruh perasaannya yang selama ini tak terungkap…rasa sesal dan cinta yang mendalam kepada Lucinda dan Martha. Ed meninggal dunia beberapa minggu sebelum surat tersebut sampai di tangan Lucinda.

–9–

Carlos Bello melangkah ke dalam rumah dengan langkah gontai. Lelah dan ada sedikit kesedihan tampak di wajahnya.

“Lucinda, ini ada surat untukmu”,  ucapnya sambil menyodorkan sepucuk surat dalam amplop tertutup kepada Lucinda.

Lucinda: “surat dari siapa?”

Carlos: “bacalah”

Lucinda membuka dan membaca surat tersebut dan beberapa saat kemudian ia mulai menangis.

Lucinda: “Ed terserang penyakit kolera, ayah. Ia sekarat. Ia meminta maaf kepadaku, Martha, dan ayah. Ia masih sangat mencintaiku dan tidak dapat melupakanku”.

Carlos: “Edmund sudah meninggal beberapa hari yang lalu, Luci”.

Lucinda hanya terdiam mendengar kata-kata ayahnya tersebut. Ia menelungkupkan wajahnya di atas meja riasnya dan menangis perlahan. Setelah ia berhasil menguasai diri, ia berjalan menghampiri ranjang tidur Martha dan sambil memeluk buah hatinya itu ia berbisik. “papa sudah pergi, Martha. Ia minta maaf tidak pernah dapat mengunjungimu selama ini. Ia hanya bisa menitipkan pesan agar engkau tumbuh menjadi anak yang baik. Cintanya selalu bersamamu”…

“Maaf…mau tambah lagi hot chocolate-nya?”, sebuah suara tiba-tiba membuyarkan lamunanku. “boleh, satu lagi. Terima kasih”, jawabku kepada pelayan cafe tadi. Sayup terdengar alunan suara Elvis Presley melantunkan sebuah lagu merdu:

“Tell me….tell me that your sweet love hasn’t die…

Give me…give me one more chance to keep you satisfied…satisfied…

You were always on my mind…you were always on my mind…”

by: Audie Jo Ong, November 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s