Baby blue: renung hati Tiara

I don’t wanna close my eyes, don’t wanna fall asleep

Cause I’d miss you baby, and I don’t wanna miss a thing…

Cause even when I dream of you, sweetest dream would never do

I’d still miss you baby, and I don’t want miss a thing…

(Aerosmith)

 

 

Taruhan pasti lirik lagu tersebut tidak asing lagi buat kalian! 🙂 Ya, lirik lagu Aerosmith yang pernah popular di akhir 1990-an tersebut adalah lirik lagu yang menemani selama sembilan bulan masa kehamilan anak pertamaku dulu.

Kata orang kehamilan anak pertama adalah saat yang paling mendebarkan, berharap-harap cemas, bersiap-siap untuk sebuah kejutan,  dan penuh dengan spekulasi: “nanti sakitnya kayak apa ya? sulit enggak ya keluarnya nanti?  normal atau  operasi nih enaknya? cewek atau cowok ya? mau disiapin nama apa?” dan sebagainya, dan sebagainya. Aku pun demikian! Sedemikian sibuknya pikiranku hingga lupa memperhitungkan kesiapanku secara mental untuk melewati hari-hari pasca melahirkan yang penuh dengan jam-jam menyusui, memandikan, dan menggendong bayi yang semuanya seolah berlomba dengan kebutuhanku pribadi untuk pulih dari kegiatan melahirkan itu sendiri. Akibatnya terjadilah serangan baby blue!

Serangan pertama terjadi saat aku harus keluar dari rumah bersalin. Aku seperti baru menyadari akan hilangnya waktu-waktu istirahatku yang berkualitas selama menjalani perawatan di rumah sakit: jam-jam menyusui, jam-jam makan, dan jam-jam tidur yang diatur sedemikian rupa oleh para dokter perawat. Ketika aku melangkahkan kaki meninggalkan rumah sakit sambil menggendong bayiku, dan ketika aku melangkahkan kaki turun dari mobil yang membawa kami sampai ke rumah, sebuah perasaan kesepian tiba-tiba menyergapku…entah kenapa aku merasa seolah akan menjalani hari-hari yang berat bersama bayiku 😦

Kejam? Well aku tidak bisa tidak setuju bahwa itu kata yang tepat untuk menggambarkan semua rencana yang terlintas dalam pikiranku saat itu. I wish I can be escaped to somewhere exotic and have my own holiday. Just me, myself, and I…

 

Mengurus bayi yang baru lahir seorang diri, tanpa bantuan dari pihak lain memang sungguh sangat merepotkan buatku. Saat itu keadaan ekonomi kami memang tidak memadai untuk menggaji pembantu maupun baby sitter sehingga aku harus merangkap semua tugas tersebut sekaligus.

Mungkin kalian bertanya: “memangnya sudah tidak punya orang tua?”. Yah biasanya orang lain akan ditemani oleh ibunya saat melewati masa-masa awal kelahiran seperti itu, namun kala itu ibuku tidak bisa hadir menemani karena beliau sedang dalam keadaan sakit diluar kota. Ibuku akhirnya datang saat aku harus kembali bekerja di kantor tiga bulan setelah itu…

Sekarang, sebelas tahun telah berlalu sejak kelahiran putra pertamaku tersebut dan aku masih bisa mengingat betapa aku menyesali setiap keluhan dan kekurang perhatian yang pernah kulakukan terhadapnya dulu…

Sekarang dalam doaku setiap pagi dan malam, dalam setiap kesempatan yang ada bersamanya aku berusaha mengungkapkan cintaku kepadanya dalam kata dan tindakan, dalam ucapan dan perbuatan…

Pesanku untuk kalian, para sahabatku tercinta, yang mungkin sedang mengalami sindroma yang serupa dengan yang pernah aku alami: jangan berlama-lama terhanyut dalam penolakan dan keterbebanan yang nantinya akan menguras emosi kalian hingga timbul rasa bersalah yang berlebihan. Tetaplah berdoa kepada Tuhan karena hanya Dialah yang mampu menjaga keseimbangan emosi kita 🙂

by: Audie Jo Ong, September 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s