Every Time I look at You…

–1–

Setiap wanita mendambakan perkawinan yang bahagia, indah, gemerlap, mewah, dan….wait! gemerlap?! Mewah?! Don’t think so…setidaknya not for Sarah, teman kantorku. “Aku ingin perkawinan yang sederhana. Hanya dihadiri oleh keluarga dekat dan para sahabat. Yang penting happy ending. Happily ever after”. Begitu selalu celotehnya setiap ada pergunjingan sepurar pernikahan di kantor kami. Ya iyalah…siapa juga yang mau menikah di hotel bintang lima, dihadiri jutaan umat, namun bubar dalam hitungan hari? Sebagai penggemar kartun Disney, Sarah memang sangat terobesesi dengan cerita yang happy ending. “Biar deh suami gue enggak cakep-cakep amat, yang penting dia baik dan setia sama gue. Titik”, celoteh Sarah.

 Titik?! Tunggu dulu…

–2–

“Daaaaaaveeeeeee! Jangan bengong dooooong…tolong pindahkan sofa merah itu kesini!”, teriak Pritta, kakak Dave. “Digeser ooomm…digeseeeeerrrr…masa sofa seberat itu diangkat?! Mana kuat kamu?!”.

Dave: “Iya iyaaa. Sabar dikit kek. Capek nih…” (sambil merenggut).

Tidak sabar menunggu gerak Dave, Pritta langsung menghampiri sofa merah ditengah ruang tamu dan mulai mencoba menggesernya sendiri.

Dave: “ya ampuuun…sabar bentar lah neng!”

Pritta: “ach! Kamu lamban! Jadi laki-laki tuh yang gesit. Jangan letoi!”

Dave diam saja. Malas meladeni omelan Pritta.

Dave: “kasihan si Matt…”

Pritta: “apa? Kamu bilang apa barusan?!”

Dave: “hm? Enggak…enggak bilang apa-apa”

Pritta diam saja namun matanya melotot kearah Dave yang tengah berusaha mendorong sofa merah ke lokasi yang diinginkan Pritta.

Persiapan pernikahan Pritta dengan Mathew memang telah menyita perhatian seisi rumah Pritta. Tidak terkecuali Dave, adik semata wayangnya. Pernikahan untuk Dave adalah sebuah luka. Yah siapa yang tidak terluka bila sang kekasih hati membatalkan pernikahan satu minggu sebelum pernikahan berlangsung dengan alasan ‘sudah tidak cinta lagi’ dan kemudian menghilang entah kemana. Sebulan kemudian baru diketahui bahwa sang pacar sudah menikah dengan laki-laki lain…

–3–

Handphone dalam tas Sarah bergetar. Tertera nama “Pritta” disana.

Sarah: “Hallo”

Pritta: “Hallo. Mbak Sarah ya?”

Sarah: “ya betul. Ada yang bisa dibantu Pritta?”

Pritta: “apa kabar mbak? Ganggu enggak nih?”

Setelah berbasa-basi sebentar, Pritta menyampaikan keinginannya untuk dibantu Sarah.

Pritta: “mbak Sarah masih suka bikin klaapetaart kan? Kalau bisa, aku mau pesen 100 mangkok kecil dong untuk hari Rabu depan”

Sarah: “100 mangkok? Bisaaa..mau ada acara apa nih?”

Pritta: “midodareni” (sambil tersenyum – lupa kalau Sarah tidak bisa melihat senyumnya dibalik sana)

Sarah: “waaah…mau nikah ya? Selamat yaa..pestanya hari apa? Jumat? Atau Kamis?”

Prita: “hari Kamis malam mbak. Di rumahku. Hari Jumat malam dah harus berangkat ke Paris karena calon suamiku ditempatkan di KBRI sana”.

Selanjutnya obrolan wara-wiri itupun akhirnya ditutup dengan undangan lisan Pritta kepada Sarah untuk menghadiri pesta pernikahannya hari Kamis malam.

–4–

Rabu sore, saat midodareni pun tiba. Kegaduhan terjadi di rumah keluarga Soelarso, orangtua Pritta. Sedemikian sibuknya hingga tidak ada yang menyadari kedatangan Sarah mengantar klaapetaart.

Sarah: “permisi…maaf permisi…saya mau mengantar pesanan kue”

Sudah tiga menit ia berdiri di pelataran depan rumah tersebut namun tidak ada satu manusiapun yang menghampirinya. Tiba-tiba…

“Hai! Cari siapa?”, sebuah suara dari arah belakang mengejutkan Sarah. Sontak ia menoleh dan melihat ke sumber suara tersebut. Laki-laki, tinggi, tampan. Hmmm….

Sarah: “halo. Saya Sarah, teman Pritta. Saya mau mengantarkan pesanan kue ini”

“oh hai. Saya Dave, adik Pritta. Mari saya antar kedalam”, sahut Dave sang pemilik suara tersebut.

Setelah mereka tiba di dapur…

Dave: “ok ditaruh saja disini. Nanti biar mereka yang merapihkannya. Saya kedalam sebentar untuk memberitahu Pritta bahwa kamu datang. Mm udah dibayar belum ya kuenya?”

Sarah: “terima kasih. Belum sih. Ini bonnya. Saya tunggu di pagar depan saja ya”

Dave: “ok (sambil melihat bon). 750.000 ya total semuanya?”

Sarah: “ya, 750.000. semuanya ada 100 mangkok”

Dave berlalu ke ruang keluarga. Tidak sampai lima menit Dave sudah kembali dengan amplop putih.

Dave: “ini uangnya. Diitung aja dulu. Terima kasih kata Pritta. Maaf dia tidak bisa keluar karena sedang didandanin”

Sarah: “tidak apa. Terima kasih ya Dave” (sambil menghitung jumlah uang dalam amplop)

Dave: “jangan lupa datang besok malam kata Pritta”

Sarah: “ok. Aku usahakan. Makasih ya. Uangnya pas”

Sarahpun pergi, sementara Dave masih berdiri di depan pagar. “Menarik”, ucap Dave dalam hati.

–5–

Pesta pernikahan Pritta dan Mathew berlangsung meriah. Setidaknya demikian yang tampak di mata Sarah. Namun karena ia tidak mengenal para tamu yang hadir di pesta tersebut, maka ia memilih duduk sambil sesekali mengambil makanan yang disajikan. “enak enak makanannya. Perfect”, ucap Sarah dalam hati sambil menyuapi somay goring kedalam mulutnya.

“Halo…sendirian?”. Sarah terkejut dan mengangkat wajahnya kearah suara tersebut. Dave!

Sarah: “hai. Iya sendirian. Uhhm maaf aku terlihat rakus ya??” (grogi)

Dave: “haha…sori sori. Silahkan dilanjutkan makannya. Ehm udah coba kambing guling yang disana? Enak loh! Dijamin nambah!”

Sarah: “belum. Aku enggak doyan kambing”

Dave: “waah sayang. Enak loh padahal. Ya udah nanti kita ke tempat es puter aja. Mumpung masih sepi antrian”

Tanpa basa-basi, Sarah dan Dave langsung tancap gas ke gubuk es puter. Ternyata selera mereka sama: rasa duren.

Dave: “Sarah. Kamu sudah punya pacar belum?”

Ditanya mendadak seperti itu, sontak Sarah tersedak. “uhuk uhuk uhuk”.

Sarah: “belum. Kamu?”

Dave: “belum. Ehm kalau hari Sabtu ini aku ajak kamu nonton, mau enggak? Ada film bagus nih kebetulan”

Sarah: “boleh (sambil menunduk, pura-pura sibuk menyantap es puter). Kebetulan aku belum ada acara” (what?? Belum ada acara?? Bukannya memang tidak pernah ada acara??)

–6–

“Saraaah…ada yang cari kamu nih…laki-laki”, teriak bunda Sarah dari arah ruang tamu. “haduh mama! Ngapain sih musti pake nyebut laki-laki segala??”, omel Sarah dalam hati.

Sarah: “iya maa..suruh tunggu sebentar”

Dave datang dengan setelan  t-shirt, jaket coklat khaki, celana jeans biru tua, dan sepatu kanvasnya. Tampan. Tidak lama kemudian Sarahpun keluar dengan mengenakan celana katun warna coklat muda 3/4 kaki, kemeja biru muda tanpa lengan, syal coklat muda senada  warna celananya. Very chick.

Dave: “permisi tante.  Mau ajak Sarah nonton dulu. Nanti jam 10 sudah pulang lagi”

Bunda Sarah hanya mengangguk mengiyakan sambil tersenyum ke arah Dave.

Sarah: “pergi dulu ya mam. Mau dibeliin apa?”

Bunda Sarah: “tidak usah repot-repot. Hati-hati di jalan ya”

Bunda Sarah mengantar mereka sampai ke gerbang.

Dave: “ehm, maaf ya. Mobilku sedang rusak. Kita naik taksi aja ya? Enggak papa kan?”

Sarah: (sambil tersenyum) “enggak papa. Kenapa enggak bilang dari tadi? Kan bisa nelpon taksi dari rumah?”

Dave: “iya sori. Enggak kepikiran tadi”

Untung bagi mereka, ada taksi kosong melintas depan jalan rumah Sarah.

Supir taksi: “slamat sore. Mau kemana pak?”

Dave: “Setiabudi Building pak”

Sarah: “kenapa di Setiabudi? Tidak ke Senayan atau Plasa Indonesia aja?”

Dave: “aku ingin mengajakmu ke café temenku di Setiabudi 1. Setelah itu baru kita nonton ya”

Sarah hanya mengangguk. “whatever lah..yang penting hari ini aku nge-date sama kamu”, ucap Sarah dalam hati.

–7–

Sarah dan Dave memasuki café milik Stanley, teman kuliah Dave. “Café DelaVita”. Suasana café yang cozy dengan keharuman biji kopi yang menggoda plus alunan music jazz yang romantis benar-benar membuat Sarah terbuai. “hmm…pantes temenk-temenku getol pacaran. Nice to try”, bisiknya sambil tersenyum.

“Sarah? Kamu mau minum apa?”, suara Dave membuyarkan lamunannya.

Sarah: “hot cappuccino decaf. Ada kan ya?”

Dave: (sambil berbicara kepada pelayan café) one hot cappuccino decaf and one ice green tea frappe

Setelah membayar dan mengambil minuman pesanan mereka, Dave berjalan ke tempat Sarah duduk.

Dave: “here you are. One hot cappuccino decaf

Sarah: “thanks Dave. Berapa nih?”

Dave: “no need. My treat

Setelah menghabiskan minuman mereka, Dave dan Sarah bergegas menuju gedung bioskop yang letaknya satu lantai diatas Café DelaVita.

Dave: “filmnya mulai jam 7. Sepuluh menit lagi. Selesai jam 8.50. mau?”

Sarah: “boleh…”

–8–

Waktu telah menunjukkan pukul 21.10 WIB saat Dave dan Sarah keluar dari gedung bioskop.

Dave: “lapar enggak Sar? Mau makan dulu?”

Sarah: “enggak terlalu sih. Tadi makan popcornnya kebanyakan. Tapi aku mau ke toko roti dulu. Beli roti gandum buat mama”

Dave: “ok. Tuh ada dibawah, sebelah café”

Dave dan Sarah masuk ke toko roti dan setelah selesai mengambil roti tawar dan beberapa roti manis kecil lainnya, Sarah bergegas ke kasir.

Dalam perjalanan pulang, supir taksi yang membawa mereka bertanya, “ maaf pak, bu, keberatan kalau saya memutar musik?”

Dave: “tidak ada pak. Asal dipelankan saja volumenya”

Supir taksi mengangguk sambil mengucapkan terima kasih, lalu mulai memasang CD pribadinya.

Sarah: “Il Divo?! Woow selera musiknya ok juga nih pak supir (bisik Sarah kepada Dave)

Dave: “kamu suka?”

Sarah mengangguk. Tanpa disadarinya, tangan Dave telah mengenggam tangannya. Ketika ia tersadar dan menoleh kearah Dave, Dave tersenyum memandangnya dan bertanya, “kamu keberatan?”. Sarah menggeleng. Keduanyapun tersenyum dalam senyap. Sayup terdengar alunan suara merdu Il Divo melantunkan Everytime I Look at You:

I close my eyes..the moment I surrender to you…

Let love be blind…innocent and tenderly true…

Lead me through tonight…please turn out the light…

Cause I’m lost every time I look at you…

by: Audie Jo Ong, October 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s