I Swear….

Waktu belum lagi menunjukkan pukul delapan malam saat aku melangkahkan kaki memasuki “Max Brenner” di jantung kota Sydney. Sebuah lagu lembut menyapa telingaku ketika aku berjalan mendekati area pemesanan:

For better or worst…’till death due us part…

I love you with every beat of my heart, I swear….

 

Aku tersenyum kearah pelayan coffee shop sambil menyebutkan “one hot chocolate please”. Sambil duduk menikmati coklat panasku, pikirankupun mengembara ke alam khayal…

–1–

Adalah Priyonggo, mahasiswa kedokteran tingkat akhir di Malang, yang sedang menikmati liburan akhir tahun bersama keluarganya di Sydney, Australia.  Jauh amat ke Australia? Ibunya punya satu alasan yang kuat: Priyonggo sedang patah hati! Ya, Nena, pacar Priyonggo sejak masih sama-sama duduk di bangku sekolah menengah atas, terpaksa pergi meninggalkan kota Malang untuk mengikuti ayahnya yang mendapat tugas penempatan di Australia. Apa boleh buat?

Sayangnya Nena tidak siap dengan ‘hubungan jarak jauh’. So daripada sakit hati karena dikhianati – demikian alasan Nena dua bulan lalu – Nena meminta hubungan mereka diakhiri sebelum ia berangkat ke kota Canberra. “kalau jodoh, tak’kan lari kemana kok Pri”, demikian ucap Nena saat itu.

 

–2–

 

“Miss Sastradinata”, panggil petugas di loket pendaftaran mahasiswa baru Universitas Canberra. Dengan setengah berlari Nena menghampiri loket tersebut untuk mengambil kuitansi serta jadwal wawancara dengan Head Faculty of Law . “kamis depan! Hmm masih ada waktu untuk persiapan”, ucap Nena dalam hati ketika membaca jadwal yang tercantum dalam lembaran yang diberikan petugas tadi.

Nena berjalan menuju tempat sepedanya diparkir dan segera mengayuh sepedanya menuju apartemen tempat tinggalnya. “hufh dinginnya….”, keluh Nena dalam hati ketika udara dingin kota Canberra menyusup dari sela-sela jaketnya yang tidak terkancing rapat. Tidak sampai sepuluh menit bersepeda, tibalah ia di apartemen mungil yang disewa ayahnya.

 

–3–

 

“Pri bangun! Pri!”. Prionggo berusaha membuka matanya namun ia tak mampu bergerak. “Priii…Priyonggo…bangun Pri!”. Priyonggo berusaha meronta namun ia merasa dirinya dibekuk dan tiba-tiba terangkat ke udara dan plasss… dijatuhkan ke dalam air. Tiba-tiba kesadaran dirinya kembali dan Priyonggo terbangun, duduk, dengan napas terengah-engah. Tampak ibunya duduk disamping tempat tidurnya.

“kamu mimpi apa Pri? Teriak-teriak terus dari tadi…”, tanya sang bunda cemas.

“entah bu. Mimpi yang aneh”, jawab Priyonggo.

“kamu ndak mimpiin si Nena kan? Pri?”, tanya sang bunda menyelidik.

Priyonggo menggeleng dan kemudian turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.

“cuci muka dan doa, Pri.. setelah itu coba tidur kembali”, saran ibunya.

“ya bu…”, sahut Priyonggo dari dalam kamar mandi.

 

–4–

 

“Ne, kamu mulai kuliah kapan?”, tanya ayah Nena saat mereka duduk di meja makan pagi ini.

“mm..minggu depan baru mau wawancara sama head programnya. Mungkin dua minggu lagi, yah! Kenapa?”, tanya Nena.

“besok ayah ke New Castle. Ada urusan dua hari di sana dan setelah itu menginap semalam di Sydney. Kamu mau tinggal disini atau ikut ayah?”, tanya sang ayah.

“waaaah mau dong yaaaah….Nena ikut!”, sahut Nena girang tanpa menyadari bahwa another possibility is waiting for her in Sydney…

–5–

 

Priyonggo keluar dari kamar dengan wajah segar. Tidak ada sisa-sisa mimpi buruk semalam. Ia berjalan menuju dapur tempat ibunya sedang menyiapkan sarapan pagi.

“pagi bu. Ibu bikin nasi goreng ya?”, tanya Pri kepada sang ibu yang tengah menumis bumbu.

“iya. Tolong ambilkan nasi yang di mangkuk biru itu Pri. Tolong tuang ke sini”, pinta sang ibu.

Priyonggo melakukan tepat seperti permintaan ibunya. Tidak berapa lama, nasi goreng istimewa buatan ibu-pun siap disantap!

“pak, nanti siang Pri mau ke New Castle sama mas Gun. Naik mobil mas Gun. Nginep semalam di apartemen mas Gun. Boleh ya pak?”, tanya Pri pada ayahnya.

“boleh aja. Jam berapa berangkat?”, ujar sang ayah.

“jam sepuluh nanti mas Gun kesini jemput Pri. Sekalian silahturahmi sama bapak dan ibu”, sahut Pri.

“waaah kok pergi enggak ngajak-ngajak?? Aku juga mau ikut dong mas…”, celetuk Ririn, adik Pri dengan wajah cemberut.

“iya iya boleh. Mas Gun punya apartemen tiga kamar katanya. Ya udah kamu cepat mandi siap-siap sana! Entar lagi mas Gun datang”, sahut Pri.

Tanpa ba-bi-bu, Ririn langsung menghabiskan nasi goreng di piringnya dan melesat menuju kamar mandi.

–6–

 

Ting tong… Bunyi bel di pintu masuk apartemen berbunyi. Ibu Priyonggo berjalan menghampiri pintu dan setelah beliau mengintip siapa yang datang, ibu pun segera membukakan pintu.

“slamat pagi Bude. Assalamualaikum. Apa kabarnya Bude? Lama enggak bertemu”, sapa Gunawan sambil mencium tangan ibu Pri.

Alhamdulilah baik, nak Gun. Apik kabarmu, nak?”, tanya ibu Pri.

 “weee mas! Waduuuh…tepat waktu banget datangnya! Jam sepuluh teng!”, teriak Pri dari arah ruang makan sambil berjalan menghampiri Gunawan. Mereka berangkulan sejenak.

“kabar baik dek. Mana Pakde dan Ririn?”, tanya Gunawan.

Tidak lama kemudian ayah Pri dan Ririn pun keluar dan menemui Gunawan. Mereka duduk di ruang tamu, bercakap-cakap melepas rindu, sambil sesekali diselingi canda dan tawa.

Tepat pukul sebelas, Gunawan beserta Priyonggo dan Ririn pun berpamitan untuk menuju New Castle.

“hati-hati di jalan. Jaga diri baik-baik ya. Titip Pri dan Ririn ya nak Gun”, pesan ibu Pri sambil melambaikan tangan kearah mereka bertiga.

–7–

 

Nena tersenyum sambil menghirup udara dalam-dalam. “Sydney, here I come…”, ucapnya dalam hati ketika melangkahkan kaki keluar dari Sydney Airport menuju mobil yang siap mengantar mereka ke New Castle.

“kamu senang bener kayaknya? Memang ada teman di New Castle?”, tanya ayah Nena.

“enggak…enggak ada siapa-siapa…bosen aja di Canberra”, jawab Nena sambil merengut.

“hmm..nanti selama ayah kerja, kamu jalan-jalan aja sendiri dengan mobil ini ke pantai atau ke taman atau kemana saja kamu ingin. Ok? Nikmati masa-masa liburanmu sebelum mulai kuliah nanti”, ujar sang ayah sambil tersenyum ke arah Nena.

–8–

 

Ririn berlari riang menuju pantai…suara deburan ombak seakan-akan memanggilnya untuk segera menghampiri…”aaah segarnya udara pantai…”, teriak Ririn sambil melambai kearah Gunawan dan Priyonggo. “ayooo cepat kesini mas!”.

Priyonggo dan Gunawan hanya menatap kearah Ririn sambil tetap berjalan perlahan dengan kaki telanjang. “dasar a be ge”, gerutu Priyonggo.

“Rin! Sudah kau dobel sun block-mu tadi?!”, teriak Gunawan.

“sudaaaah…”, balas Ririn sambil menyibak air dan mencipratkannya kearah Priyonggo.

Tiba-tiba Ririn berhenti dan berdiri mematung menatap sosok yang tengah berjalan kearah mereka. Melihat adiknya terdiam seperti itu sontak Priyonggo menatap kearah yang sama. Nena!

“sedang apa dia disini?”, tanya Priyonggo, lebih kepada diri sendiri.

“mana aku tahu, mas?”, balas Ririn tanpa permisi.

Nena yang tengah berjalan sambil menunduk tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika menyadari ketiga sosok yang tengah menatap kearahnya.

“hai”, sapa Priyonggo kaku.

“hai”, balas Nena.

“hai mbak Nena! Apa kabar? Lama ya enggak ketemu kita”, suara Ririn yang ceria tiba-tiba memecah kekakuan diantara mereka berdua.

Nena tersenyum kearah Ririn. “baik Rin. Kalian lagi liburan disini? Mana bapak dan ibu?”, tanya Nena.

“iya mbak, kami lagi liburan. Bapak dan ibu juga ikut, tapi mereka di Sydney. Kami kesini sama mas Gun (sambil menoleh kearah Gunawan yang tersenyum mengangguk sambil menjabat tangan Nena). Mmm mbak, mas, Ririn mau beli es krim dulu ya kesana (sambil menunjuk kearah restoran kecil di tepi pantai). Yuk! Temenin aku mas Gun! Mbak Nena, mas Pri, kami tinggal dulu yaa”, sahut Ririn sambil berlari menarik tangan Gunawan.

Sepeninggal Ririn dan Gunawan, Nena dan Priyonggo masih tetap berdiri terdiam…sibuk dengan pikiran dan ego masing-masing.

“kamu sedang apa disini?”, tanya Priyonggo sambil tetap menatap kearah laut.

“menemani ayah tugas. Besok kami ke Sydney dan lusa balik ke Canberra”, jawab Nena menunduk. “Pri…kamu masih marah padaku?”, tanya Nena tiba-tiba mengganti topik pembicaraan.

“marah? Buat apa aku marah??”, balas Pri tak acuh.

“Pri. Maafkan aku ya. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Maukah kamu memaafkanku? Aku…aku belum dapat melupakanmu, Pri”, ucap Nena lirih.

“hmm ya”, jawab Pri. “eh? Apa kamu bilang tadi? Belum dapat melupakanku?”, balas Pri sambil mencoba menatap kedua mata Nena.

Nena mengalihkan pandangan kearah laut sambil menjawab, “aku masih mencintaimu, Pri”.

Priyonggo terdiam untuk beberapa saat. Mencoba menyelidiki hati dan pikirannya, dan menyatukan keduanya dalam sebuah potongan mozaik yang wajar.  Apakah tidak salah dengar ia tadi? Nena masih mencintainya? Lalu bagaimana dengan dirinya sendiri? Masihkah rasa itu ada?

“Pri, tidak usah dijawab. Maafkan ucapanku tadi. Anggap saja aku tidak pernah mengatakannya. Aku pergi dulu. Enjoy your vacation ya…salam untuk Ririn dan Gunawan”, ucap Nena sambil membalikkan badan, meninggalkan Pri yang masih membisu.

Butuh waktu beberapa detik sepeninggal Nena sebelum Priyonggo memberanikan diri untuk memanggilnya. “Nena tunggu!”, panggil Pri sambil menyusul Nena. Nena menghentikan langkahnya tanpa menoleh kearah Pri.

“Nena….aku juga masih cinta. Rasa itu masih ada. Masih kuat dihatiku”, ucap Pri. Tanpa sadar air mata Nena mengalir mendengar kata-kata Pri itu. Nena membalikkan badan kearah Pri. Sambil memegang pundak Nena, Pri berkata, “mungkinkan kita menyambung cinta yang terputus dua bulan lalu? Meski jarak memisahkan kita?”, tanya Pri yang dijawab dengan anggukan kepala Nena.

Belum sempat mereka berpelukan, tiba-tiba….. “maaas, mbaaak, mau es krim enggak??”, teriakan Ririn memecah kemesraan yang tengah terbangun…

I’ll give you every thing I can

I’ll build your dreams with these two hands
We’ll hang some memories on the wall

And when just the two of us are there, you won’t have to ask if I still care
’Cause as the time turns the page, my love won’t age at all

(All 4 One)

by: Audie Jo Ong, January 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s