My Life, My Adventure

Pernah lihat iklan Djarum yang judulnya “My Life, My Adventure”?  Aku suka banget lihat iklan itu. Sarat dengan para lelaki tangguh yang suka bertualang.

Hari itu, Selasa siang, saat aku melintasi jalan Sudirman dalam kemacetan, tanpa sadar aku menoleh kearah kiri jalan dan tampaklah olehku billboard iklan tersebut. Sembari menginjak gas, rem, dan kopling secara bergantian, pikirankupun terlempar ke alam khayal….

–1–

Adalah Eric, seorang pemuda blasteran Jawa – Belgia, berperawakan 3-T (tinggi, tegap, tampan) dan berusia di awal 30-an. Ia masih single dan tercatat sebagai trainer di salah satu perusahaan swasta asing di Jakarta.

Status single-nya membuat Eric sering kerepotan meladeni teror SMS dari para fans-nya yang tersebar di kantor maupun dari kampus adiknya. Sebut saja Linda, Miryam, Lenny, Lisa, Sofia, Natalia, Vina, Diandra, Berta, Farida, Saskia, dan masih panjang daftar nama yang dapat disebutkan.

Sang mama sudah seringkali mengeluh pada Eric. “Kapan kau mau menikah, Eric? Buatlah papa mamamu ini senang dengan kehadiran seorang cucu”. Begitu selalu ocehan sang mama.

Eric: “iya maaa..iya. Nanti ya kalau Eric sudah ketemu Megan Fox, baru deh Eric lamar dia dan bawa kesini jadi mantu mama. Ok?”

Sang  mama biasanya langsung  terdiam. Malas untuk berdebat. “Megan Fox? Perempuan mana lagi itu?”, batinnya.

–2–

Adalah Golda, konsultan SDM, cantik, ramping, berkulit gelap, berambut keriting, dan selalu riang meski usianya sudah mendekati angka 40! “Life begin at fourty. So if you are not 40 yet then it means your life is not begin yet”, demikian selalu dalih Golda setiap kali ada teman atau saudara yang menanyakan kapan ia akan mengakhiri masa lajangnya. “Calon sih sudah ada tapi istrinya belum mau nyeraiin dia. Hahahaha”, kilah Golda setiap kali bundanya bertanya apakah sudah menemukan laki-laki yang tepat.

Orangtua Golda memang layak cemas mengingat kedua adiknya sudah menikah dan mempunyai anak sementara Golda tidak menunjukkan sedikitpun tanda-tanda akan dilamar. Boro-boro dilamar, yang naksirpun tidak jelas ada atau tidak…

–3–

“Eric! Dipanggil pak boss tuh! Di ruangannya”, ucap Firdaus.

Eric: “mau ngapain?”

Firdaus: “don’t know. Kangen aja kali” (sambil nyengir)

Eric: “sialan…”

Firdaus: (sambil tertawa perlahan) “good luck, bro!”

Eric mengetuk pintu ruangan Anthony, atasannya.

Eric: “Hi. Did you call me?”

Anthony: “Ah yes Eric. Do come in”

Eric: “something wrong?”

Anthony: “no no no. Nothing wrong. I need you to attend a workshop in Singapore next week. Train for Trainers. Do you have any schedule for next week?”

Eric: “nope. I’m free”

Anthony: “ok then. Good. Now could you please call Anita for me? I tried to call her but she wasn’t at her desk!”

Eric segera meninggalkan kursinya dan berjalan ke ambang pintu ruangan Anthony. Matanya mencari-cari Anita.

Eric:  (sambil berteriak) “Anitaaaa. Dipanggil Anthonyyyy…”

Anita yang tengah asik bergosip ria di pantry langsung bergegas mendatangi ruangan Anthony.

Anita: “yes Anthony?”

Anthony: “where have you been?! I called your phone three times already!”

Anita: “I am very sorry. I just have my late lunch” (bohong pastinya…)

Anthony: (sambil menarik napas) “well, whatever. Please no next time. Now I want you to book a flight and accommodation for the Train the Trainers workshop for Eric. Please contact miss Erlin for any detail needed. Alright? Thank you”

Anita meninggalkan ruangan kerja Anthony dan sambil melirik ke Eric ia mencibir, “asik bener lo ye ditugasin ke Singapore. Mantaaab”

Eric: “ tenang aja Nit. Entar gue beliin oleh-oleh”

Anita: “sialan lo! Oleh-olehnya harus yang keren-an dikit. Gue bosen dikasih coklat mulu”

Eric: “sip laah. Lagian bulan depan juga lu bisa minta si Jaswan bulan madu ke Singapore”

Anita: “yeeee…mana mau dia ke Singapore. Dia mah pengennya bulan madu ke kampungnya di Madiun” (sambil cemberut)

Karuan Eric dan Firdaus yang mendengar itu langsung tertawa terbahak-bahak. Tidak perduli kalau Anita makin sebal mendengar tawa mereka.

–4–

Golda masih tepekur didepan layar laptopnya. Matanya belum beralih dari email yang dikirim oleh penyelenggara “3 days workshop Train the Trainers”. Ia diminta untuk menggantikan atasannya sebagai salah satu pembicara. Golda kesal karena pemberitahuan tersebut terlalu mendadak. Tidak cukup waktu untuk menyiapkan materi. Tapi yah apa mau dikata? Perintah adalah perintah…

Dengan enggan Goldapun mulai menyiapkan materi presentasi yang akan ia bawakan selama 3 sessi di Singapore. Masih terngiang ucapan boss-nya, bu Yana: “make sure that you deliver your best. 100% satisfaction, zero complaints”. Walah?? Mana sanggup??

–5–

 Minggu sore di bandara Sutta.

Golda berjalan tergesa-gesa sehingga tanpa sadar roda kopernya mengenai kaki orang yang berjalan disamping kanannya.

“Auch!”, teriak orang tersebut kesakitan.

Golda: “oh maaf maaf ya mas. Saya tidak sengaja. Sakit ya?”

“Sakitlah pastinya. Gimana sih? Hati-hati dong kalau jalan mbak…”, gerutu orang tersebut.

Golda: “maafkan saya. Sekali lagi, maaf”

Sehabis mengucapkan kalimat terakhirnya, Golda langsung berjalan cepat tanpa menoleh kebelakang. Tidak tahan ia menghadapi pelototan mata laki-laki itu.

Di ruang tunggu sudah banyak penumpang tujuan Singapore yang menunggu diberangkatkan. Golda memandang ke segala penjuru mencari bangku kosong. Nihil. Untung tidak lama setelah itu ada panggilan untuk boarding.

“12 F”. Mata Golda mencari-cari lokasi duduknya. Ia terlalu sibuk mengangkat koper kecilnya keatas kabin sehingga tidak menyadari ada penumpang yang akan duduk di “12 E” sudah berdiri cukup lama menunggu giliran.

“sudah selesai mbak?”, suara seorang laki-laki mengejutkannya. Spontan Golda menoleh kearah suara tersebut. Laki-laki yang tadi! Golda hanya melempar senyum manisnya dan kemudian mempersilahkan laki-laki tersebut menaikkan kopernya ke kabin.

Golda: “maafkan kejadian tadi”

Penumpang 12 E: “tidak apa. Sudah lewat. Enggak usah dibahas. Ok?”

Golda: (mengangguk sambil tersenyum) “terima kasih. By the way, saya Golda” (sembari mengulurkan tangan)

Penumpang 12 E: “Eric” (sembari menjabat tangan Golda). “Ke Singapore juga?”

Golda: “ya. Ke Singapore. Dinas. Anda mau kemana?”

Eric: “Singapore. Training. Menginap dimana?”

Golda: “Mandarin”

Eric: “sama dong…waah kita bisa naksi bareng ya?”

Golda: “he eh. Berapa lama di Singapore-nya?”

Eric: “tiga hari. Rabu malam balik Jakarta”

Golda: “sama dong…share taksinya bisa pulang pergi dong ya?” (sambil tertawa)

Eric: “deal” (sambil mengedipkan mata)

–6–

Eric terbangun dengan kondisi badan masih penat. Ia menyambar jam tangannya di meja samping temapt tidur. “06.45. huh, masih lama. Training baru dimulai jam 09.00 nanti”, pikir Eric. Eits?! Tunggu dulu! Singapore dan Jakarta terpaut waktu satu jam berarti sekarang jam 07.45…. “gawat!”

Tanpa ba bi bu, Eric langsung masuk kamar mandi dan berpakaian ekstra cepat. Jam 08.30 ia sudah berada di lantai 2, tempat diselenggarakannya workshop tersebut.

“Excuse me sir. Register first?”, sebuah suara wanita menegurnya. Eric buru-buru kembali ke meja registrasi. Sambil menandatangani kolom absensi, matanya iseng mencari nama Golda dalam daftar peserta. “who knows?”, pikirnya. Tidak ada. Eric kemudian memasuki ruangan training dengan membawa satu bundle materi, agenda selama tiga hari, dan badge peserta.

Setelah mendapat tempat duduk dan berbasa-basi sekedarnya dengan peserta lain, Eric mulai membolak-balik agenda dan materi training yang diberikan tadi. Betapa terkejutnya ia ketika menemukan profil perempuan yang mirip dengan Golda. “Ms. G.A. Parinussa”. Ternyata ia seorang trainer….

–7–

Dua hari dua malam berlalu sudah. Hari ini adalah hari penutupan workshop “Train for Trainers”.

“Semestinya aku gembira. Tapi kok aku malah mellow gini??”, pikir Eric. “Apakah karena Golda?”, lanjutnya dalam hati.

Ya, Golda telah mengisi hari-hari Eric selama di Singapore. Canda, tawa, dan kepribadiannya yang menarik telah mampu menorehkan sebersit rasa suka di hati Eric. Namun ada satu pertanyaan yang masih mengganggunya: “apakah Golda masih single? Sudah punya pacar belum ya?”

–8–

Golda berjalan terburu-buru meninggalkan kamarnya menuju lobi hotel untuk check out. “Hai! Baru mau check out sekarang?”, tegur Eric. Golda tersenyum kearahnya. “iya..kamu?”

Eric: “sudah. Pas jam makan siang tadi”

Golda: “oh..kenapa enggak ngajak-ngajak?”

Eric: “sorry. Kupikir kalau pembicara ada penanganan khusus”

Golda tertawa. Hati Eric berdesir… “sial! Gue belum pernah jadi kikuk begini…”, ucapnya dalam hati.

Selesai check-out mereka bergegas mengambil taksi ke bandara.

Eric: “mm..aku belum beli oleh oleh untuk keluargaku dan teman-teman di kantor. Boleh ya nanti kita mampir mampir sebentar beli coklat di bandara?”

Golda: “of course! Aku juga belum beli oleh oleh kok” (sambil tersenyum)

Eric: “nanti kamu dijemput? Suamimu atau mobil kantor?”

Golda (sambil tertawa): “aku belum punya suami, saying..pacarpun belum ada. Aku nanti naik taksi saja”

Eric: “kalau begitu bareng aku saja. Kamu tinggal dimana?”

Golda: “Tebet. Kamu?”

Eric: “waah deket dong. Aku di Pancoran. Ya sudah nanti bareng aja ya naik taksinya”

Golda: “serius nih? Nanti ada yang marah lagi….”

Eric: “enggak kok…I’m a single guy” (sambil mengedipkan mata ke Golda)

Golda hanya tersenyum menanggapinya..tapi entah kenapa ada sedikit rasa lega mendengar jawaban Eric tersebut.

–9–

Kota Jakarta tampak indah saat ditatap dari ketinggian. “Jakarta, here I come…”, bisik Golda dalam hati. Entah kenapa ada rasa sedih dalam hatinya saat mengucapkan kalimat tersebut. Berpisah dari Eric? “O my God! What’s wrong with me??”, batin Golda.

Sesaat setelah mendarat, Eric dan Golda pun bergegas mencari taksi untuk pulang.

Eric: “Golda, bener kamu belum punya pacar?”

Golda: “ya. Setahuku sih begitu. Kenapa?”

Eric: “enggak apa. Kamu bukan lesbian kan?”

Golda: “whaaaat?!?!?! Of course I’m not!!” (sambil meninju pundak Eric perlahan)

Eric (sambil tertawa): “just kidding. Kalau kamu enggak keberatan, mau enggak pergi sama aku hari Sabtu nanti?”

Golda: “mau kemana?”

Eric: “ya nonton, ya makan, ya jalan lah pokoknya. Aku jemput dan aku anter pulang” (sambil tersenyum)

Golda: “ok”

–10–

 “Eriiic! Kamu sudah pulang nak?”, teriak bundanya saat melihat Eric melangkah masuk ke rumah.

Eric: “hai ma. Apa kabar? Ini oleh oleh untuk mama” (sambil mencium kedua belah pipi sang bunda)

Bunda Eric: “capek ya nak? Tapi kok wajahmu cerah?”

Eric: “iyalah capek. Tapi senang karena sudah ketemu Megan Fox disana” (sambil tersenyum)

Bunda Eric: “jangan becanda! Bener kamu ketemu perempuan itu?”

Eric: “ya enggaklah ma…tapi Eric bertemu dengan Golda. Eric suka dia. Hari Sabtu nanti Eric kenalin dia ke mama yaa…”

Tiba-tiba dari belakang muncul adik bungsunya mengejutkan mereka. “Naaaah yaaa..ketahuan yaaa… kak Eric sudah punya pacar ya?? Mana?? Kenalin dong…”

Eric: “iya..nanti ya hari Sabtu”

Adik Eric: “eh? Kenalan dimana kak?”

Eric: “di Singapore. Pas acara kemarin”

 Adik Eric: “kok bisa sih kak? Kan cuma tiga hari? Cepet bener??”

Eric: “bisa aja dong. Eric gitu loch. It’s my life, my adventure

Suara klakson mobil di belakangku tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Ternyata aku sempat terdiam di tempat. Pantas saja pengemudi dibelakangku mulai kesal dan marah-marah. Maafkan saya karena melamun, teman…it’s my life, my adventure

by: Audie Jo Ong, November 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s