Perbedaan itu bukan dosa!

“Ti, nanti malam ada acara enggak? kita-kita mau nengokin si San San. Bokapnya meninggal dan sekarang disemayamkan di RSPAD. Kalau bisa ikutan ya Ti. Sekalian temu kangen. See you!”. Kubaca ulang pesan singkat yang dikirimkan oleh Daisy, sahabatku semasa kuliah S1 dulu. Papanya San San meninggal? Sakit apa ya?  Dan ternyata aku tidak membutuhkan waktu lama untuk mengetahui alasannya…

“Ti, udah tahu belum kalo bokapnya San San meninggal? Beliau dirampok dan ditusuk berulang-ulang di rumahnya. Semua uang dan perhiasan yang ada di rumah habis dikuras penjahatnya. Sekarang kasusnya lagi ditangani polsek Matraman”, tulis temanku Aryo di inbox email-ku beberapa jam setelah itu.  Aku hanya bisa menarik napas panjang. Ini bukan kali pertama aku mendapat kabar tentang meninggalnya orang tua sahabat atau temanku yang berasal dari etnis Tionghoa. Kalau meninggal karena sakit, yah oke lah…semua orang bisa sakit dan semua orang pasti meninggal. Yang muda saja bisa, apalagi yang sudah lanjut usia. Tapi masalahnya kebanyakan dari mereka meninggal karena dibunuh! Benar-benar menyedihkan…

Aku memang banyak memiliki sahabat dan teman yang berasal dari etnis keturunan yang terkenal jago dagang, pelit, dan (sayangnya) senang mengelompok pada cluster-nya sendiri itu.  Well, aku tidak menyalahkan mereka seratus persen karena hal itu karena banyak diantara mereka yang memang sering ‘ditodong’ untuk sekedar mentraktir maupun ‘meminjamkan’ contekan. Itu sudah nasib tampaknya dan rata-rata mereka hanya pasrah diperlakukan demikian. Namun kalau dirampok dan dibunuh??  Itu sudah keterlaluan!

Kalian mungkin berpikir bahwa aku berlebihan menanggapi semua hal ini. Semua orang bisa mengalami kemalangan seperti itu, apapun jenis pekerjaan, warna kulit, dan asal usul etniknya. Okay that’s true…tapi kalau mayoritas kasus yang terjadi menimpa satu golongan tertentu, maka bukankah ini bisa disebut sebagai “pola”?

Aku teringat kata-kata Willy, suamiku yang kebetulan berasal dari etnis Tionghoa, beberapa tahun lalu saat kami baru menikah, “Jangan dikira kalo semua orang Cina itu kaya, Ti. Banyak juga yang hidup susah. Bahkan ada meski punya duit banyak tapi pelit pada diri sendiri demi bisa menyekolahkan anaknya sampai ke universitas. Gue sendiri enggak pernah minta terlahir sebagai Cina. Malah dulu gue pengen jadi anaknya Ratu Elizabeth II aja! Tapi ya mau gimana lagi kalau Tuhan udah atur begitu? Ya ada sih diantara temen-temen gue yang bangga banget sama etnisitasnya sampai menolak ide kawin campur. Tapi gue enggak. Itu sebabnya gue milih lu”. Dan pilihan yang dibuatnya itu bukanlah pilihan yang mudah. Ia harus menghadapi rentetan pertanyaan dan interogasi dari keluarganya karena aku. Tapi sekarang, belasan tahun setelah kami menikah, aku tidak lagi menemukan tatapan mata curiga ataupun pandangan menyelidik dari keluarganya terhadapku. Seiring dengan kelahiran dua buah hati kami, perlahan tapi pasti mereka menganggapku sebagai bagian dari mereka.

Aku tahu bahwa tidak semua saudara sebangsaku anti terhadap etnis yang berkulit kuning, bermata sipit, dan sering berkomunikasi dengan ‘kosa kata ajaib’ yang hanya dipahami oleh kalangan terbatas saja ini. Bahkan ada banyak orang kita yang memuja artis-artis Cina, Jepang, dan (apalagi) Korea Selatan yang kesemuanya itu di-fasilitasi oleh media elektronik dan cetak yang memanjakan pemirsa dan pembaca di tanah air dengan serial dan berita-berita terkini tentang para artis dari negara-negara tersebut. Tapi itu saja kan tidak cukup untuk menjembatani perbedaan dan kesalah pahaman yang sudah terlanjur ada…

Aku pribadi berharap bahwa semua salah paham ini bisa segera tertangani dengan baik. Aku percaya bahwa solidaritas dan sikap menghargai keperbedaan masih exist dalam bangsa ini, dan aku berdoa kiranya Tuhan yang Maha Kuasa memberkati dan melindungi kita semua dalam perjuangan bersama ini. Semoga kalian setuju denganku. Amin…

by: Audie Jo Ong, September 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s