Please don’t say a word…: part I

Hi! Just the two of you?”. Sebuah suara laki-laki yang riang dan berat mengejutkanku dan Ferry yang sedang asik bekerja di depan laptop kami masing-masing sore itu. Kami berdua serentak mendongak dan menatap si pemilik suara. “Hi! Yes it’s just the two of us now. Mr. Ono was already left for a meeting and won’t be back this afternoon”, jelas Ferry sambil tersenyum yang langsung disambut dengan anggukan kepala Takeda-san. “Okay then. Good bye”, jawab Takeda-san sambil tersenyum ke arahku lalu menutup pintu ruangan kami. Jantungku langsung mencelot ke bawah. Ferry langsung menoleh ke arahku dan tertawa menggoda. “Meg! Baru aja kita omongin si Takeda…eh dia muncul dengan manisnya”, ucap Ferry sambil tersenyum lebar. “Meg? Lu enggak deg-degan kan? Kok jadi pucet gitu sih?”, goda Ferry sambil tertawa. Aku tahu meski aku tidak bisa melihat wajahku tapi pasti warnanya sudah me-ji-ku-hi-bi-ni-u!

Kenjiro Takeda, a.k.a Takeda-san, adalah project manager dalam pengerjaan proyek kerjasama bantuan antara Jepang dan Indonesia dimana aku dan Ferry terlibat menangani bagian sumber daya manusia, mulai dari menghitung jumlah tenaga kerja sampai dengan membayarkan upah mingguan dan bulanan para karyawan yang terlibat.  Mr. Ono, a.k.a Matshushita Ono, adalah direct report kami di project tersebut.

Aku ‘jatuh cinta’ pada Takeda-san sejak pandangan pertama. Well, meski aku belum seratus persen yakin bahwa perasaanku padanya dapat disebut cinta namun bisa kukatakan bahwa aku sangat tertarik pada…wajah imut dan senyum manisnya yang mengingatkanku pada Wonbin, aktor Korea yang sekarang menjadi duta UNICEF…pada penampilannya yang casual tapi menarik dan formal namun bersahabat yang ditunjukkannya kepada kami, para karyawan dan konsultan lokal. Ia bahkan lebih memilih untuk duduk makan di kantin bersama kami dibandingkan bergabung dengan rekan sebangsanya yang gemar makan siang di hotel atau restoran Jepang. Aku hanya berharap bahwa alasannya bukan karena ia orang yang super irit!  Semua kelebihan itu tak ayal telah menjadikan Takeda-san sebagai pujaan para pekerja wanita di proyek kami.  “Memang cakep banget ya si Takeda-san itu?”, tanyaku beberapa waktu lalu saat aku dan Ferry baru bergabung. Amy, asisten Ono-san, mendelik ke arahku sejenak lalu menjawab, “You bet!”. Aku menatapnya lalu berkata, “I see” untuk menyudahi percakapan yang terasa garing itu. And she was right! Takeda-san is a real charm!

Siang itu aku sedang duduk sendiri di kantin karena Ferry tidak masuk. “Hello. Is this empty?”. Aku berhenti menyendok nasiku dan menatap si pemilik suara tersebut. Takeda-san! Dan ia tersenyum ramah kepadaku. Aku mengangguk sambil berkata, “Haik! Dozo”. Takeda-san tertawa kecil sambil menyahut, “Arigato gozaimasu!” lalu menarik kursi di sebelahku dan duduk disana. “What did you order?”, tanyaku sopan. Ia menunjuk kedai mie ayam Ujo yang terletak di sudut kanan kantin. Aku mengangguk sambil tersenyum.”And what did you have?”, tanya Takeda-san. Aku menunjukkan separuh isi piringku yang telah nyaris tandas. “Rice, gudeg, urap, and tempe tahu bacem”, jawabku. Takeda-san tampak tertarik melihat campuran menu yang tersisa diatas piringku. “Healthy?”, tanyanya penasaran. Aku menelengkan kepala seolah berpikir keras lalu sambil tertawa kecil menjawab, “I don’t know. Delicious for sure!”. Takeda-san mengangguk sambil tersenyum. Tidak lama kemudian, mie ayam pesanannya pun datang. “Itadakimasu!”, serunya bersemangat.  Aku hanya mengangguk sambil  menyahut, “Dozo”.

“Wah mbak Meggy hebat juga nih…baru join seminggu sudah berhasil makan siang sama si cogan”, celetuk Mariska, bagian keuangan proyek. Aku yang sedang mengambil air dari dispenser mendadak menoleh ke arahnya. “Cogan?”, tanyaku. “Cowok ganteng!”, sahut Amy ketus. “Si Takeda-san itu loh maksudku, mbak”, jelas Mariska. Oo..si Wonbin…, ucapku dalam hati. Aku hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan Mariska itu lalu berjalan melewati meja mereka sebelum kembali ke ruang kerjaku. “Kenapa lu?”, tanya Ferry ketika aku menghempaskan pantatku dengan cukup keras diatas kursi. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum menghembuskannya perlahan lalu menjawab, “Gerah gue lama-lama ngeliat cewek-cewek admin itu”.  Dahi Ferry langsung berkerut. “Cewek-cewek mana? Si Amy?”, tanyanya lagi.  “Yeap! Amy dan Mariska. Paduan yang mematikan”, jawabku singkat. “Baru juga seminggu kerja kok udah diisengin gitu sih? Emang lu ngapain?”, tanya Ferry penasaran. “Enggak ngapa-ngapain. Gue cuma makan siang sama Takeda-san doang sih kemarin pas lu absen. Itu juga enggak pergi bareng…”. Aku menghentikan ucapanku saat melihat Ferry yang mulai tampak tertarik dengan ceritaku. “Kenapa lu? Kok kayaknya seneng bener denger gue makan siang sama si Takeda-san?”, tanyaku.  Ferry tertawa kecil sejenak sebelum menjawab, “Udah gue duga pasti ada kaitannya sama si Takeda”. Aku mengangkat bahu. “Lagian lu sih masih anak baru udah bikin story sama big boss”, ucapnya lagi. Aku mendelik ke arahnya. “Siapa yang bikin story?!!”, tanyaku dengan nada sebal. Ferry cepat-cepat berpaling dan pura-pura sibuk menekuni layar laptopnya. Huh! Siapa juga yang sengaja cari perhatian Takeda-san??

Hi! Good morning…”. Sapaan ramah Takeda-san terdengar saat aku melewati pintu ruangannya yang terbuka lebar pagi itu. Aku segera menghentikan langkah dan kemudian mundur beberapa langkah lalu melongok ke dalam ruangannya. “Good morning, Takeda-san! Ohayo Gozaimasu!”, jawabku sopan sambil membungkukkan kepala. Takeda-san tersenyum. “You are early”, ucapnya sambil melihat jam tangan. Aku tersenyum. “I am a morning person. I prefer to work early in the morning than late at night”, jelasku. Takeda-san mengangguk. “I can do both”, jawabnya ramah. Aku berdehem salah tingkah. Kesal dengan kebodohanku sendiri karena telah melupakan fakta bahwa laki-laki Jepang adalah tipe pekerja keras. “Okay. See you later!”, ucap Takeda-san seolah mempersilahkanku untuk segera menuju ruang kerjaku. Aku hanya mengangguk kecil lalu melangkah dengan cepat. See you later? Apa maksudnya nih? Mau makan siang bareng kayak waktu itu lagi atau apa? Atau jangan-jangan itu cuma ucapan ramah tamah saja?, tanyaku dalam hati. Well, apapun alasannya yang pasti aku merasa senang karena membayangkan kemungkinan bertemu dengan si Wonbin lagi siang nanti.

(to be continued)

 by: Audie Jo Ong, October 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s