Please don’t say a word…: part II

Duile cerah amat pagi-pagi, mpok?”, sapa Ferry saat memasuki ruang kerja kami pagi itu. Aku yang sedang asik kerja sambil mendengarkan musik langsung menatapnya sambil kemudian melirik jam tangan. “You are ten minutes late!”, jawabku sok ketus. Ferry langsung menanggapi dengan tawa khas-nya (baca: terbahak-bahak). Aku mendelik ke arahnya namun tak ayal akhirnya ikut tertawa juga. “Judes deh lu kalo lagi sok marah-marah gitu!”, ucap Ferry setelah berhasil meredakan tawanya. Ferry segera meletakkan barang-barang bawaannya dan kemudian berjalan menuju pintu keluar. “Udah ngopi Meg?”, tanya Ferry sambil mencuri pandang ke atas meja kerjaku. Aku menggeleng. “Mau gue bikinin sekalian enggak?”, tanya Ferry lagi. Aku berpikir sebentar kemudian mengangguk. “Hai!”, sahutku. Ferry tertawa lagi. “Ampun deh lu, Meg…baru juga berapa minggu kerja sama Jepang udah pake hai segala”, sahut Ferry sambil melangkah keluar dari ruangan.

Lima menit berlalu dan Ferry belum juga kembali ke ruangan dengan secangkir cappuccino panas yang kutunggu-tunggu. Tiba-tiba terdengar ketukan halus di pintu. Halah! Apa-apaan sih Ferry? “Masuk!”, sahutku. “Hi! Busy?”, tanya sang pengetuk pintu. O my God! Takeda-san?? Aku langsung memasang senyuman termanisku sambil menggeleng. “Not really. What can I do for you?”, tanyaku kikuk. Takeda-san melangkah masuk ke dalam ruang kerja kami lalu duduk di depan mejaku. “I need your help”, ucap Takeda-san. Aku menatapnya sambil menunggu kalimat berikutnya yang akan ia lontarkan. “My friend will come to Jakarta tomorrow and I want to buy a batik scarf for a welcome gift for her”, lanjutnya lagi. Aku terdiam. Batik scarf for a gift?? Then it must be a she and she must be very special…, keluhku sedih dalam hati. Takeda-san menatapku. “So can you help me, Meggy-san?”, tanyanya lagi. “Today?”, tanyaku tolol. Takeda-san tersenyum lalu mengangguk. “After office?”, tanyanya balik. Aku mengangguk dengan enggan. Takeda-san berdiri lalu mengangguk sopan kepadaku sambil mengucapkan, “Arigato gozaimasu, Meggy-san”. Dan tepat ketika Takeda-san membuka pintu, si ‘biang gosip’ Ferry sedang berdiri di depan pintu sambil memegang 2 cangkir cappuccino panas di tangannya. Dan benar saja, Ferry langsung menghampiri mejaku dengan sorot mata curiga. Aku langsung pura-pura tidak peduli.

Siang itu di kantin…

Aku dan Ferry duduk berhadapan di salah satu meja yang terletak di sudut kantin yang penuh sesak dengan karyawan yang sedang asik menikmati santap siang mereka. Tiba-tiba Ferry menatap ke belakangku dengan bola mata yang perlahan membesar. “Jangan nengok!”, ucap Ferry ketika menangkap gelagatku yang akan menoleh mengikuti arah pandangnya.  “Kenapa?”, tanyaku berbisik. Ferry memberi kode agar aku memajukan wajahku ke arahnya. “Pasukan comel bergerak ke tempat kita dari arah jam dua belas gue”. Aku mengangguk sambil memundurkan punggungku ke posisi semula. Bunyi langkah sepatu berhak tinggi mulai terdengar mendekati meja tempat kami duduk. “Haloo guys…”. Terdengar sapaan genit khas Mariska.  Aku mendongak menatap wajahnya yang sekarang tepat berada di atas kami. “Boleh join enggak? Kami kehabisan meja nih…”, ucapnya lagi sambil merengut ke arah Ferry. Tanpa banyak basa-basi Ferry langsung menggeser kursinya demi memberi space yang cukup untuk Mariska. Aku pun meniru tindakannya dan membiarkan Amy menarik salah satu kursi kosong di dekatnya dan duduk di sampingku.

By the way sudah dengar gossip baru belum?”, tanya Mariska kepadaku dan Ferry. Mulai deh!, keluhku dalam hati. Kami menggeleng. “Emang ada gossip apa’an?”, tanya Ferry. Gayung bersambut…Mariska langsung memasang wajah sebal dan berkata, “Ternyata si Takeda-san udah punya gacoan!”. Aku yang sudah menduga informasi seperti ini akan segera tersebar hanya diam sambil tetap mengunyah empal daging dan tempe bacem kesukaanku. Ferry, seperti sudah kuduga, langsung menimpali dengan semangat, “Oh ya?!  Dia udah punya pacar??”. Amy yang sedari tadi diam saja langsung menyahut, “Kenapa kaget!?  Cowok ganteng kayak dia sih pasti udah punya pacarlah!”. Ketusnya…, pikirku ngeri. “Bukan begitu maksud gue”, sanggah Ferry. “Terus? Maksud lu apa?”, selidik Mariska. Ferry menggeleng. “Enggak ada maksud apa-apa. Gue tadinya malah ngirain dia udah nikah and punya anak segala. So tadi gue surprise banget pas tahu dia ternyata masih nge-jomblo and sekarang pacarnya mau kesini”, jawab Ferry dengan wajah merengut. “Eh Ris!”, ucap Ferry tiba-tiba. Mariska menoleh. “Apa?”, tanyanya. “Pacarnya cewek atau cowok?”. Aku, Mariska, dan Amy langsung melongo menatap Ferry.

After office…

Ferry sedang bersiap-siap merapihkan laptop dan barang bawaannya ketika telepon di atas meja kerjaku berdering. “Halo?”, sahutku setelah mengangkat dan meletakkan gagang telepon di  telinga kiriku. “Meggy-san? Hi”, terdengar suara khas Takeda-san di ujung sana. “Hi”, jawabku santai, berusaha agar Ferry tidak curiga dan lalu berdiri di dekatku. “Ready?”, ucap Takeda-san. “Not yet. Fifteen minutes?”, tanyaku. “Okay. I’ll wait for you downstairs. At the lobby”, jawabnya. See you then”, ucapku lalu meletakkan gagang telepon. Ferry yang tidak tampak curiga segera berjalan melenggang menuju pintu. “Lu enggak pulang, Meg? Lembur?”, tanyanya basa-basi. Aku mengangguk. “Yeap! Ada laporan yang musti gue kelarin sebelum pulang. Lu duluan aja, bro. See you tomorrow!”, jawabku sambil melambaikan tangan ke arahnya. “Oke deh…take care ya Meg”, ucap Ferry sambil membuka pintu ruangan. Tiba-tiba, kepalanya menyembul kembali dari arah pintu. “Psst! Meg!”, panggilnya. Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya. “Apa?”, tanyaku. Dan sambil mengedipkan mata Ferry menjawab, “Si bos ganteng baru keluar dari ruangannya tuh!”. Aku hanya melengos dan kembali menekuni pekerjaanku. Ferry lalu menutup pintu dan berjalan menuju lift. Sempat kudengar suara Mariska menyapa Ferry. “Hai Fer…sendirian? Si Meggy masih di ruangan?”. Lalu perlahan suara mereka semakin menjauh…

Aku turun ke lobi tepat lima belas menit setelah Ferry dan lainnya pulang. Mataku mencari-cari sosok Takeda-san. “Meggy-san!”. Suara teriakan dari arah mobil yang sedang berhenti tepat di depan pintu keluar menyadarkanku. Aku langsung menoleh dan tampak Takeda-san sedang melambaikan tangannya melalui pintu jendela yang setengah terbuka. Tanpa ragu-ragu, aku langsung berjalan cepat menuju mobil tersebut dan satu menit kemudian mobil pun bergerak meninggalkan pelataran parkir gedung perkantoran kami.

(to be continued)

by: Audie Jo Ong, October 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s