Please don’t say a word…: part III

“Meggy-san!”, teguran Takeda-san membuyarkan lamunanku malam itu di salah satu galeri batik terbaik di Jakarta. Aku berjalan menghampiri Takeda-san yang sedang asik mengamat-amati beberapa pasang syal yang digelar dengan apik diatas meja counter. “What do you think? This one, this one or this one?”, tanyanya sambil menunjuk tiga pasang syal yang masing-masing berbeda warna dan corak. Aku menatapnya sejenak lalu bertanya, “Tell me about your friend”. Takeda-san mengangguk kecil lalu menjawab, “One hundred sixty seven centimeter height, short hair, thirty two years old and very quiet”. Aku menatapnya kembali lalu mengajukan pertanyaan berikutnya, “Any preferred color?”. Takeda-san menggeleng sejenak lalu tiba-tiba menepuk kepalanya. “Baka!”, ucapnya memarahi diri sendiri. Lalu seperti menyadari kebingunganku ia menoleh dan tersenyum sambil menggeleng. “I am sorry”, ucapnya sambil menundukkan kepala. Aku kembali menatap ketiga pasang syal yang masih terbujur manis diatas meja counter tersebut. Aku pribadi pasti akan segera menyambar syal yang berwarna maroon dengan corak silver abu-abu itu, tapi masalahnya ini untuk pacar si Wonbin yang seleranya tidak kuketahui. Jangankan aku, kekasihnyapun tampak tidak mengetahui apa-apa tentang kesukaan gadisnya itu. Huh! Payah banget sih si Takeda-san ini!, batinku.

Dengan berbagai pertimbangan dan alasan yang entah darimana datangnya, aku akhirnya menyerahkan syal berwarna maroon itu kepada Takeda-san. Awalnya ia tampak ragu namun mungkin karena tidak enak hati maka ia tanpa banyak bertanya langsung menyerahkan syal pilihanku itu kepada penjaga counter. Setelah menerima bungkusan syal tersebut dan mengucapkan terima kasih kepada si penjaga counter, Takeda-san menanyakan apakah aku masih memiliki waktu untuk menemaninya makan malam. Aku yang memang sudah menahan lapar sejak beberapa menit lalu tanpa ragu-ragu langsung mengiyakan. Bodo amatlah ia mau berpendapat apa tentang gue. Lapar men!, pikirku tak acuh.

Kembali ke selera asal…

Seperti dugaanku, Takeda-san akhirnya memilih restoran Jepang sebagai tempat makan malam kami. Dan seolah menyadari keterbatasan pengetahuanku akan menu makanan Jepang, ia dengan ramah dan sabar mendeskripsikan beberapa panganan yang akan ia pesankan untuk kami. Jika aku mengangguk setuju maka ia pun langsung menyebut nama makanan tersebut kepada pelayan restoran yang sedang berdiri sambil mencatat menu pesanan kami.

Beberapa menit kemudian semua makanan pesanan kami sudah lengkap terhidang diatas meja, lengkap dengan minuman ocha panasku dan satu kaleng soft drink untuk Takeda-san. Sebenarnya aku heran dengan pemilihan minuman Takeda-san tapi aku sudah terlalu lapar dan lelah untuk bertanya ini itu yang bukan urusanku jadi tanpa menunggu lebih lama aku langsung mengucapkan, “Itadakimasu”, lalu segera mencomot dua potong sushi dan melahapnya. Ketika sedang asik mengunyah sushi kedua itulah aku baru menyadari bahwa Takeda-san tidak ikut makan melainkan meminum softdrink kalengannya sambil menatapku. Aku langsung salah tingkah. Sambil menundukkan kepala ke arahnya aku berkata, “I am sorry”. Takeda-san menanggapi permintaan maafku sambil mengangguk dan tersenyum. “It’s all right. I know that you are hungry”, ucapnya lagi sambil tetap menatapku. Aku menundukkan kepala, tidak berani menatap matanya yang entah kenapa malam itu memancarkan sorot yang menurutku agak berbeda. Mungkin gara-gara keredupan sinar lampu di resto ini atau gara-gara softdrink itu?, pikirku sambil tanpa sadar melirik kaleng softdrink di tangan kanannya. Dan seperti menyadari lirikanku, Takeda-san langsung meletakkan kaleng tersebut diatas meja dan kemudian mengambil sepasang sumpitnya dan mulai makan.

Setelah menikmati makan malam dalam keheningan dan kesibukkan pikiran kami masing-masing, Takeda-san akhirnya menawarkan untuk mengantarkanku pulang. Aku sebenarnya merasa enggan untuk diantar pulang oleh orang kantor, apalagi big boss, ditambah pula calon suami orang! Bisa dikejar Jepang sekampung gue kalau sampai ceweknya tahu, batinku, namun Takeda-san terus mendesak. “It’s nine o’clock already. It’s not safe for you to take a cab or public transport. I’ll take you home”. Begitu kira-kira penjelasannya yang membuatku malas membantah pada akhirnya.

What a weird night…

“Stop disini aja pak Sugi. Rumah saya disitu. Nanti saya jalan kaki aja. Enggak jauh kok”, ucapku pada supir kantor yang bertugas mengawal kami malam itu. Takeda-san mengernyitkan dahi menatapku. “Where’s your house?”, tanyanya. Aku menunjuk ke arah sekumpulan rumah mungil berbentuk paviliun. “I live in one of those pavilions”, jawabku. Tiba-tiba Takeda-san membuka pintu mobilnya dan turun. Aku bingung dan langsung ikut turun. “Thank you very much, Takeda-san. See you tomorrow morning”, ucapku sambil membungkukkan badan. Takeda-san tertawa kecil lalu menyahut, “I’ll walk you home”, sambil mempersilahkanku untuk jalan lebih dahulu. “No. You don’t have to walk me home. It’s very near. I can walk by myself. Thank you”, ucapku mencoba menolak tawarannya. Namun Takeda-san seolah tidak perduli pada penolakanku. Ia lalu berjalan menuju kumpulan paviliun tersebut dan kemudian berbalik ke arahku dan bertanya, “Which one do you live in?”. Dengan enggan aku menunjuk salah satu paviliun kecil dimana aku dan kakak perempuanku tinggal. Takeda-san berjalan menuju paviliun mungilku tersebut lalu berdiri didepan pintunya dan menatap ke arahku.

Aku mengeluarkan kunci lalu membuka pintu paviliun dan kemudian menatap Takeda-san. “Good night, Takeda-san. Thank you so much”. Ia tersenyum manis ke arahku, senyum yang mengingatkanku pada Wonbin, lalu melambaikan tangan sambil berkata, “Good night and see you tomorrow, Meggy-san”. Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Takeda-san lalu berbalik ke mobil.  Aku menatap punggungnya beberapa saat sampai ia membuka pintu mobil lalu aku melambai ke arahnya sekali lagi sebelum menutup pintu. What a weird night!, batinku sambil berjalan menuju kamar tidur.

“Lu dianter boss Jepang lu, Meg?”, tanya Sherry, kakakku, ketika aku melewati ruang makan. Rupanya ia belum tidur dan masih asik mengunyah roti bakar keju yang aku yakin dibelinya di dekat pangkalan ojek dekat rumah. Aku hanya mengangguk lalu masuk ke kamar. “Dia udah punya bini belum?”, tanya Sherry lagi. “Belum”, sahutku dari dalam kamar. “Pacar?”, suara Sherry terdengar lagi. “Udah!”, jawabku kesal. “Ati-ati aja Meg! Entar ceweknya cembokur terus ngirim Ninja kesini buat ngabisin lu bisa konyol deh akhirannya”, ucap Sherry lagi. “Iya tahu!”, jawabku sambil mengambil baju tidur dan masuk ke kamar mandi.

(to be continued)

by: Audie Jo Ong, November 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s