Please don’t say a word…: part IV

Jika ada orang yang mengatakan bahwa akhir dunia akan datang hari ini maka aku adalah orang yang paling sepakat dengannya. Bagaimana tidak? Hari ini Takeda-san akan mengajak teman dekatnya itu ke kantor proyek. “Mau lunch bareng sekaligus dikenalin ke orang-orang proyek”. Kira-kira demikianlah yang dikatakan oleh Mariska kemarin siang kepada aku dan Ferry. Aku yang merahasiakan kepergian kami berdua untuk mencari souvenir buat kekasihnya itu tentu saja kaget mendengarnya. “Well namanya juga calon istri pasti harus tahu dong lakinya kerja apa and dengan siapa aja”, tukas Amy sambil melirikku judes. Aku membalas lirikannya dengan tatapan bingung. Apa sih maksudnya ngomong kayak gitu sambil ngelirik gue?, pikirku tidak senang. Ferry yang memahami ketegangan antara Amy dan aku langsung bertindak untuk mencairkan suasana. “Yah lumayanlah ada hiburan”, ucap Ferry yang langsung disambut dengan tatapan penuh pertanyaan dari Mariska. “Maksudnya hiburan?”, tanya Mariska. Ferry tertawa sambil menjawab, “Maksud gue, akhirnya bisa ngeliat noni-noni Jepang yang kata orang cantik, putih, dan imut. Bosen kan ngeliatin kalian-kalian mulu!”. Mariska mencibir sementara aku menggeleng sambil tersenyum. “Cantik, putih, imut. Selera lu banget ya Fer?”, ucapku pada Ferry. “Yo’i”, jawab Ferry sambil manggut-manggut.  “By the way, kami balik dulu ya. Lagi banyak kerjaan nih! Yuks dear”, ucap Ferry lagi sambil menggamit lenganku. Dan kami berduapun berlalu…

“Meg, lu deg-deg’an enggak mau ketemu calon istrinya Takeda-san?”, tanya Ferry ketika kami berdua telah duduk manis dalam ruangan. Aku diam sebentar kemudian menggeleng. “Not really”, jawabku pelan. “I see”, tanggap Ferry lagi. “Kenapa sih nanya-nanya kayak gitu sama gue? Lu curiga gue naksir si Takeda-san ya?”, tanyaku penasaran. Ferry tertawa kecil. “Enggak juga sih tapi gue heran aja ngeliat perubahan sikap lu kemarin-kemarin ini. Biasanya lu rada riang gitu tapi kok sejak kemarin lu kayak orang linglung? Bengong, letih, lesu, kayak orang kurang darah gitu…”, jelas Ferry dengan pandangan menyelidik. “Lu sakit ya? Di sini apa di sini, sis?”, tanyanya lagi sambil menunjuk pikiran dan hati. Aku tertawa sambil menunjuk telingaku. “Apa tuh maksudnya?”, tanya Ferry polos. “Capek dengerin ocehan para bigoss”, jawabku tegas. “Ooo…”, ucap Ferry sambil manggut-manggut. Dan mungkin karena ia cukup memahamiku, ia langsung diam dan membiarkanku bekerja tanpa gangguan.

Tok tok. Bunyi ketukan dua kali terdengar di depan pintu ruangan kami. Aku dan Ferry langsung saling berpandangan. “Excuse me. Sorry to disturb your work. This is Megumi, my friend from Tokyo”. Suara dan sosok Takeda-san berdiri menjulang di depan pintu ruangan kami. Disampingnya berdiri seorang perempuan yang tingginya kira-kira 165 cm dan berbadan kecil. Perempuan itu tampak rapuh dan tua menurutku. Agak jauh dari kesan ‘cantik dan mungil’ ala perempuan Jepang yang selama ini didengung-dengungkan Ferry. Megumi-san langsung berjalan menghampiri meja kami dan mengulurkan tangan. “Ferry”, ucap Ferry sambil menganggukkan kepala. “Meggy”, sahutku sambil tersenyum. Megumi tampak sedikit terkejut dan lalu menatapku dalam-dalam sebelum menyahut, “Megumi. Nice to meet you”.

Segera setelah Takeda dan Megumi berlalu, Ferry langsung menoleh ke arahku sambil berkata, “Ceweknya Takeda-san enggak secantik yang kita bayangkan ya Meg?”. Aku menoleh. “Kita? Lu kali…”, jawabku asal. Ferry membenarkan, “Iya gue. Bukan kita. Kok bisa ya si Takeda-san suka sama cewek model gitu? Payah juga seleranya”. Aku langsung sok menasehati, “Jangan berprasangka buruk dulu. Lu mana tahu kalau itu cewek hebat atau pinter atau baik setengah mati sampai si Takeda-san termehek-mehek sama dia? Don’t judge the book from its cover, bro!”. Ferry menatapku dengan pandangan tak percaya. Aku menatapnya balik. “Apa?”, tanyaku. Ferry menggeleng sambil tertawa. “Gila! Gue sampai enggak percaya kalau kata-kata sehebat itu meluncur dari mulut seorang Meggy”. Aku langsung bertolak pinggang, “Maksud lo?”. Ferry mengangkat bahu, “Maksud gue, lu gitu loh yang ngomong Meg”. Aku mendelik. “Emang kenapa kalau gue yang ngomong? salah?!”, tanyaku lagi. Tidak puas dengan jawaban Ferry yang tidak direct tadi. Ferry menatapku ragu lalu menjawab, “She suppose to be your rival kan? Si Megumi itu”. Aku menggeleng tegas. “She is not! She suppose to be my friend”, jawabku tersenyum. Ferry mengangkat salah satu alis matanya. “Maksudnya?”, tanyanya. “Enggak ada maksud apa-apa”, jawabku sambil memalingkan wajah ke layar laptop. “Mencurigakan”, tukas Ferry sambil kembali bekerja. Aku tersenyum tanpa menatapnya. Biarin! Mau tahu aja sih jadi orang, seruku dalam hati. Tiba-tiba telepon diatas mejaku berbunyi. Internal call! “Halo”, sapaku setelah mengangkat telepon. “Meggy-san?”, terdengar suara Takeda-san. “Yes?”, sahutku pelan. “Do you have plan tonight?”, tanya Takeda-san. “No”, jawabku singkat. “Would you mind to go out with me and Megumi for dinner?”, tanya Takeda-san lagi. “Okay. What time and where?”, tanyaku. “Six thirty. Arirang. You can come to my room and then we go together. Megumi will be on her own to that place”, jelas Takeda-san. “Okay. Bye”, jawabku. “Bye”, sahutnya. Aku menutup telepon dan lalu menatap Ferry, namun Ferry tampak sedang asik mendengarkan lagu lewat iPod-nya hingga tidak menghiraukan pandanganku. Okelah kalau begitu, pikirku senang.

“Enggak pulang, Meg?”, tanya Ferry sambil berkemas-kemas tepat pukul lima sore itu. Aku menggeleng. “Belum”, jawabku sambil tersenyum. Berharap bahwa Ferry tidak akan bertanya lebih banyak lagi. Dan –benar dugaanku, Ferry tidak bertanya apa-apa lagi dan langsung memanggul tas ranselnya lalu melambai ke arahku. “Duluan ya sis. See you tomorrow!”, ucapnya sambil membuka dan menutup kembali pintu ruang kerja kami. Tiga puluh menit setelah Ferry berlalu, kudengar langkah kaki mendekati pintu ruanganku. Tok tok. Aku berdiri dari tempat dudukku dan tepat saat aku baru akan melangkah menuju pintu, Takeda-san telah membuka pintu dan tersenyum ke arahku. “Good afternoon”, sapanya sopan sambil menganggukkan kepala. Aku membalas anggukan tersebut. “Are you ready?”, tanyanya. Aku spontan melirik jam tanganku. “It’s five thirty. You said six o’clock, right?”, tanyaku bingung. Takeda-san mengangguk. “Yes. Six. But I think it might be good if we can go earlier. Don’t you think so?”, tanyanya lagi. Sekarang ganti aku yang mengangguk. “Okay then. Give me two minutes then I go to your room?”, tanyaku sambil berkemas. Takeda-san menyipitkan matanya. “My room?”, tanyanya sambil menatapku ragu. “Yes. Your work room?”, tanyaku memperjelas. Ia tertawa kecil sambil mengusap kepalanya.  Aku menatapnya bingung. Emang room apa dikiranya? Cape deh Wonbin…

(to be continued)

by: Audie Jo Ong, November 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s