Saat Kejenuhan Melanda…

Pernah enggak sih kalian merasakan kejenuhan yang sedemikian tingginya hingga kalian merasa seolah-olah akan segera meledak? Aku pernah…sering malah! Dan parahnya itu bisa terjadi berulang-ulang dalam kurun waktu kurang dari satu bulan.

Sebut saja kejenuhan dalam bekerja, baik itu menulis maupun menyiapkan materi siaran. Jangan dikira bahwa pekerjaan paruh waktu itu enggak bikin jenuh. Mungkin kejenuhannya beda dengan pekerjaan yang jenisnya full time alias “8 to 5” atau “9 to 6”, tapi tetap saja mengerjakan dua jenis pekerjaan berbeda dalam satu waktu yang bersamaan cukup membuat isi kepalaku terudak-udak dan akhirnya nyaris meledak!

Deadline adalah sebuah kata yang mematikan bagi seorang penulis. Secanggih apapun ide di dalam kepala kita, seromantis apapun suasana dalam hati kita, begitu mendengar kata “deadline” semuanya seolah terhempas blas! Ide yang tadinya sebesar buah kelapa mendadak ciut sebesar buah duku…suasana hati yang awalnya merah merona mendadak sirna digantikan warna kelabu…tapi apa mau dikata jika deadline merupakan pembuktian deliverability seorang penulis?

Perubahan jadwal siaran adalah momok lain yang cukup menganggu kenyamanan kerja seorang penyiar. “Gantiin gue dong Ti. Sori banget nih gue mendadak ada urusan keluarga jadi gue enggak bisa siaran besok pagi. Please Ti…”. Dan akhirnya aku akan menangguk setuju. Kalaupun aku menggeleng, maka beberapa menit kemudian pasti mas Dicky, atasanku, akan menghubungiku dan memintaku melakukan hal yang sama. Percuma!

Kejenuhan tipe kedua adalah adalah kejenuhan dalam menangani urusan-urusan rumah tangga. Sebagai seorang istri dari suami yang super sibuk dan ibu dari dua orang anak yang duduk di sekolah dasar, mau tidak mau aku harus mengambil alih beberapa pekerjaan yang tidak dapat diemban oleh suamiku. Sebut saja: mengawasi pekerjaan tukang, menyiasati pipa paralon yang retak, sampai mengantar anak-anak kami ke dokter tatkala mereka sakit. Semuanya kulakukan sendiri, tanpa campur tangan suamiku…

“Ma, ulanganku tadi dapet 5”. Demikian laporan dari si sulung ketika aku membuka pintu mobil dan bersiap melangkahkan kaki ke dalam rumah. “Bu, tadi si non makannya enggak abis”, nyanyian mbak Sari langsung terdengar di telingaku begitu kaki-kakiku menghampiri meja makan. Huh! Mengapa orang-orang ini tidak bisa menunggu sampai aku duduk dengan tenang baru memberikan laporan mereka kepadaku? Or at least give me some more time to settle in?? 

“Besok aku ke Singapore. Ada meeting dengan production house disana, terus langsung ke Canes”, ucap Willem sambil merebahkan dirinya disampingku malam itu. “Berapa hari kamu travelling?”, tanyaku. “Sepuluh hari. Kenapa Ti?”, tanyanya lagi.  “Kamu enggak datang ke pertunjukkan seninya anak-anak Senin depan?”, tanyaku balik. Willem hanya bergumam lalu menoleh kepadaku sambil berkata, “Iya enggak bisa. Kamu aja ya Ti?”. Aku pun menarik napas panjang. Kesal!

Ketika kejenuhan yang on off ini mulai sangat menggangguku, aku pun curhat ke sahabatku, Belinda. “Jadi perempuan tuh enggak boleh manja, Ti!”, sergah Belinda sehabis mendengarkan ceritaku siang itu. “Loh? Siapa yang manja? Gue cerita sama lo cuma buat ngeringanin perasaan gue doang kok! Enggak ada maksud keluh kesah berkepanjangan, Lin”, tukasku sewot. “Gue enggak bilang lo orangnya manja. Gue cuma bilang jangan manja! Bedain dong, Ti. Sensitif banget deh…”, ujar Belinda tak acuh. Dan hilanglah seleraku untuk melanjutkan perbincangan kami siang itu.

“Kebahagiaan itu pilihan”, kata temanku sesama penyiar. “Jadi kalau aku ingin bahagia berarti aku harus memilih untuk bahagia? Begitukah?”, tanyaku. “Ya, begitulah. Kenapa? Kamu takut untuk memilih?”, tanya rekanku lagi. “Nope! Gue enggak takut memilih. Gue cuma enggak merasa bahwa kebahagiaan itu pilihan. Kebahagiaan adalah hak”, jawabku sembari memasukkan lumpia goreng terakhir ke dalam mulutku. Temanku hanya mengangkat kedua bahunya lalu berdiri meninggalkanku yang masih sibuk mengunyah. “Eh Sis! Kalau kejenuhan? Pilihan bukan?”, tanyaku lagi sambil berdiri mengejar temanku itu. “Kejenuhan adalah hak”, jawab temanku sambil mencibir. Idih ngambek! 

Apakah ada diantara kalian yang pernah mengalami hal yang sama? Bahkan lebih sering mungkin? Aku cuma bisa bilang “Jangan kalah oleh kejenuhan. Rutinitas boleh menghantam kita bertubi-tubi, kebosanan boleh berupaya menganggu kenyamanan hidup kita, tapi jangan biarkan keduanya mematikan kreatifitas dan semangat hidup kita”. Ada yang ingin ditambahkan? Silahkan…

by: Audie Jo Ong, September 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s