Sang Entertainer…

Aku melangkahkan kaki menuju café yang terletak persis diseberang hotel tempatku menginap.  Saat aku masuk, tercium aroma kopi yang begitu menggoda…ditambah alunan suara merdu Michael Buble..memaksa pikiranku untuk berkelana dan menjalin sebuah cerita..

–1–

Sebut saja Ben, laki-laki muda yang mencoba mencari peruntungan hidup di New York. Dengan hanya bermodalkan gitar dan uang pas-pasan, Ben mandatangi beberapa pub, café, dan restaurant di New York untuk melamar sebagai penyanyi. Ditolak? Sudah pasti! Alhasil Ben ‘terdampar’ di sebuah resto Italia sebagai tukang cuci piring paruh waktu dan pengamen jalanan.

Suatu ketika datang seorang laki-laki paruh baya ke restaurant tempat Ben bekerja. Ia mengenali Ben dan memanggilnya, “hei anak muda! Kemari sebentar” (sambil tersenyum ke arah Ben). Ben-pun berjalan menghampirinya: “ada yang bisa saya bantu?” (dengan wajah bingung).

Laki-laki paruh baya: “ah tidak. Tidak ada yang perlu dibantu saat ini tapi saya ingin engkau ke café delavita jam 7 malam ini. Bisa?”.

Ben: “bisa pak. Tapi untuk keperluan apa?”

Laki-laki paruh baya: “kamu kan penyanyi jalanan yang suka menyanyi di depan café delavita? Siapa namamu?”

Ben: “ya betul, pak. Namaku Ben”

Laki-laki paruh baya: (sambil tersenyum) “Ben, suaramu bagus. Saya ingin engkau bertemu dengan manajer café tersebut dan mencoba bernyanyi disana. Ok? Jangan lupa nanti malam jam 7”

Laki-laki itupun berlalu meninggalkan Ben yang masih berusaha keras mencerna kejadian yang baru saja berlangsung.

–2–

 Waktu telah menunjukkan pukul 1900 saat Ben melangkahkan kaki memasuki café delavita. “selamat datang. Untuk berapa orang?” sapa pelayan café.  “Satu”, sahut Ben. Dalam hati Ben memarahi dirinya yang lupa menanyakan nama laki-laki paruh baya yang menyuruhnya datang kesana. Bagaimana kalau ia bohong? Bagaimana kalau ia hanya mengerjaiku? Bagaimana kalau…? Belum sempat Ben menyelesaikan kalimat tersebut, seorang pria berpakaian necis datang menghampirinya.

Pria necis: “anda Ben?”

Ben: “ya benar”

Pria necis: “kenalkan, saya Andy, manajer café ini. Saya diminta oleh tuan Jones untuk menemui anda. Silahkan duduk”

Ben: “terima kasih. Mmm bolehkah saya tahu mengapa?”

Andy: “tuan Jones pernah melihat salah satu pertunjukkan anda diluar sana (sambil menunjuk kearah jendela café). Beliau tertarik dan ingin saya mempekerjakan anda sebagai penyanyi di café ini. Yah untuk awalnya let’s say 2-3 kali dalam seminggu? 5 sampai 7 lagu setiap tampil?”

Ben: “mm sebenarnya ini hal baru untuk saya, tapi yah…ok. Saya mau coba”.

Andy: “well, ok. Anda bisa mulai besok malam?”

Ben: “deal”

Andy: “good. Very good. Datanglah besok malam pukul 1830. Anda menyanyi sekitar pukul 1900 s/d 2000.  Now silahkan memesan. Semuanya free untuk malam ini” (sambil tersenyum)

Ben: “baik. Terima kasih pak”

Andy-pun berlalu meninggalkan Ben dengan perasaan campur aduk. Senang, bingung, terharu…dan…”o my God! Aku lupa bertanya berapa bayaranku per malam!!” (teriak Ben dalam hati).

–3–

Pukul 1830 keesokan harinya Ben datang dengan membawa gitar. Ia mengenakan celana pantaloon warna hitam dipadukan dengan kemeja denim kotak kotak serta sepatu boot. Begitu sampai di café. Ia langsung disambut oleh Andy.

Andy: “30 menit lagi kamu mulai. 5 lagu. No country, no rock or heavy metal. Hari ini jazz or blues. Ok?”

Ben: “ok”

Tepat pukul 1900 Andy mengisyaratkan Ben untuk segera menghibur para tamu café. Lagu pertama, lagu kedua, lagu ketiga, lagu keempat, lagu kelima…dan penontonpun bertepuk tangan.  “ah leganya..” ucap Ben dalam hati.

Tiba-tiba seorang pelayan berjalan menghampiri Ben dan berbisik: “pengunjung di meja no. 7 meminta anda menemuinya”.

Ben: “siapa?”

Pelayan: “entah. Yang pasti dia muda dan cantik. Ayo cepat…” (sambil mengedipkan mata kearah Ben).

–4–

“Lila”, kata sang tamu sembari mempersilahkan Ben duduk.  “hai. Aku Ben”, jawab Ben sopan. Benar kata pelayan itu, Lila sangat cantik dengan rambut kehitaman sebatas bahu dan gaun malam yang cantik. Sangat menarik.

Ternyata Lila adalah pengunjung setia café delavita. Ia selalu hadir setiap kali Ben bernyanyi dan kerap meminta Ben duduk di mejanya untuk mengobrol sampai dengan pukul 2100.

Ben pernah mengajak Lila untuk kencan dilain waktu namun Lila menolak dengan alas an “maaf aku tidak bisa, Ben. Kita bertemu di café ini saja ya?”

Kecewa? Tentu saja Ben kecewa…tapi ia berpikir itu hanya cara Lila untuk mengulur waktu. “Bukankah wanita memang senang dikejar?”, pikir Ben dalam hati.

–5–

Tiga minggu berlalu sejak pertemuan pertama mereka dan benih cinta mulai tumbuh di hati Ben terhadap Lila. Sampai suatu hari saat Ben sedang menghibur para tamu café, tiba tiba ia menyadari bahwa Lila tidak ada malam itu. Ia melirik ke meja no. 7 sekali lagi. Kosong. “something wrong”, pikir Ben.

Selepas lagu terakhir, Ben-pun berjalan menghampiri pelayan yang sedang bertugas: “sorry, lihat Lila? wanita yang suka duduk di meja no. 7?”

Pelayan: “tidak. Dari tadi meja tersebut kosong” (sambil berlalu meninggalkan Ben).

Ben terdiam. Andy berjalan menghampiri Ben.

Andy: “Ben, sudah mau pulang? Besok jangan lupa ada permintaan menyanyikan lagu lagu Bon Jovi. Tetap dalam irama slow”

Ben: “ok”

Saat Andy akan berbalik, Ben langsung mengejarnya: “Andy, apakah kamu tahu wanita yang suka duduk di meja no. 7?”

Andy: “ya. Lila bukan? kenapa?”

Ben: “mm tidak. Tidak apa-apa. Aneh saja hari ini aku tidak melihat dia”

Andy: “beliau ke Italia semalam dan baru akan kembali minggu depan”

Ben: “Italia? Kok kamu bisa tahu?”

Andy: “ya, business trip. Menemai suaminya. Bagaimana aku tahu? Jelas aku tahu. Beliau kan istri pemilik café ini. Boss kita” (sambil tersenyum)

Ben membisu. Diam seribu bahasa. Limbung…rasanya dunia sekitarnya berputar putar…

Sayup masih kudengar alunan suara merdu Michael Buble melantunkan Me and Mrs. Jones

“we meet everyday at the same café…six-thirty I know she’ll be there

holding hands, making all kinds of plans…while the jukebox plays our favorite song”

by: Audie Jo Ong, September 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s