V=R2 : part I

Hello Jakarta…finally I see you again! Teriakku dalam hati ketika pesawat KLM yang kutumpangi mendaratkan rodanya dengan mulus di landasan bandara Soetta. Aku bahagia memikirkan akan segera bertemu kembali dengan papa dan mama dan juga kedua sepupuku, Riri dan Retno. Riri dan Retno, si R2, apa kabar ya mereka?…aku sibuk mereka-reka kehebohan saat nanti berhadapan langsung dengan kedua centil yang telah menjadi super moms itu…pikirankupun menerawang ke peristiwa sepuluh tahun lalu…

Riri dan Retno adalah dua orang sepupuku. Riri adalah anak dari pak’de Suyono, kakak mama, dan Retno adalah anak dari bu’lik Rini, adik papa.  Kami bertiga sepantaran dan kebetulan bersekolah di sekolah yang sama, namun beda kelas.  Aku di kelas 3 IPS, sementara Riri dan Retno di kelas 3 IPA. Persahabatan kami bertiga, terutama Riri dan Retno, berkembang semakin hari semakin kuat hingga suatu hari hadirlah seorang siswi baru, pindahan dari Rotterdam, bernama Vivi…

Vivi yang tajir, Vivi yang cantik, Vivi yang baik hati, Vivi yang otaknya merupakan keturunan campuran varietas unggul dari Jawa dan Belanda, telah membuat kedua sepupuku perlahan melupakan eksistensiku.  Aku tidak lagi ditunggu saat mereka pulang lebih awal, ataupun diharapkan saat mereka pulang lebih lambat. Malah terkadang Riri dan Retno mengubah rute pulang dan pergi mereka hanya untuk menghindar dari tatapan mataku yang selalu mencari-cari. Teganya…

Akhirnya hari kelulusanpun tiba. Aku dan Vivi bersama-sama naik ke atas podium untuk menerima penghargaan sebagai Juara Umum IPS dan IPA. Meski tidak lagi surprise, namun masih terbersit sedikir rasa kesal melihat Riri dan Retno hanya menyalamiku sekilas dan kemudian merangkul dan mengelu-elukan Vivi. Segitunya…

“Sis, papa sudah menulis surat kepada bu’likmu yang di Leiden. Kebetulan adik iparnya sekarang menjadi dekan fakultas hukum di salah satu universitas disana. Kamu ingin melanjutkan ke fakultas hukum kan?”, tanya papa malam itu ketika kami makan malam. Aku langsung berhenti menyuap. “Leiden? Universitas Leiden maksud papa? Are you serious??”, tanyaku sambil menatap papa dan mama bergantian. Papa mengangguk sementara mama hanya diam membisu. Tampaknya mama keberatan dengan rencana papa, pikirku saat melihat perbedaan reaksi mereka. “Ma? serius aku mau disekolahin ke Leiden?”, tanyaku pada mama. Mama menatapku dan menjawab singkat, “kalau papa sudah bilang begitu ya berarti serius”. Aku tahu mama tidak setuju tapi ia tidak mau menghalangi impianku dan tidak mau dinilai tidak taat pada papa, so she chose to let me go. Itulah kualitas yang paling aku kagumi dari seorang mama…

Pasca percakapanku dengan papa dan mama malam itu, hidupku tidak lagi bisa sesantai dulu. Saat teman-temanku masih asyik menikmati liburan, aku sudah mulai sibuk dengan bimbingan TOEFL dan kursus bahasa Belanda. Dan disaat mereka sibuk menyiapkan pendaftaran tes masuk perguruan tinggi negeri, aku sibuk berkutat dengan berkas-berkas pendaftaran ke Leiden Uni. Sedemikian sibuknya aku sampai tidak menyadari bahwa Riri, Retno, dan Vivi telah mengikat janji sehidup semati untuk mendaftar di jurusan dan universitas yang sama!

“Sis, sombong deh lu sekarang. Enggak pernah lagi kumpul sama kita-kita”, tegur Riri saat sore itu berpapasan denganku di salah satu toko buku di bilangan Matraman. Aku hanya tertawa kecil sambil menyahut, “sorry Ri! Gue lagi bener-bener sibuk nih! You know lah persiapan ke Leiden enggak sedikit. Apalagi bahasa Inggris dan Belanda gue agak dibawah normal”. Riri tidak tertawa maupun tersenyum mendengar gurauanku. Ia hanya menyahut sambil melengos, “sok!”. Lalu iapun berlalu ke rak buku lainnya. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Kalau tidak ingat bahwa ia adalah keponakan ibuku pasti sudah kupukul kepalanya dengan setumpuk buku yang kubawa. Siapa yang sok?! Bukannya mereka yang sudah sengaja melupakanku?! Bukannya mereka yang selalu sok sibuk hingga tidak pernah hadir dalam pertemuan-pertemuan keluarga seperti dulu?!…ah! bodo amatlah…

Waktu berlalu dan saat keberangkatankupun tiba. Papa, mama, pak’de Suyono, Riri, bu’lik Rini, Retno, dan tak ketinggalan Vivi ikut mengantar keberangkatanku ke Negeri Belanda. Saat itu, Riri, Retno, dan Vivi telah terdaftar sebagai mahasiswa kedokteran gigi di sebuah universitas negeri di Jakarta. Sesaat sebelum aku pamitan untuk boarding, tiba-tiba seorang pemuda berlari-lari kearah kami. Tampan dan keren…itulah kesanku ketika pertama kali menatapnya. Ia menatapku canggung lalu matanya seperti mencari-cari seseorang yang dikenal. Riri, sepupuku yang paling centil langsung berdiri sigap sambil berteriak, “Raymond!”, lalu gerakannya itu diikuti oleh Retno dan Vivi. “Sis, kenalin ini Raymond, teman kuliah gue. Sekarang gank-an kami enggak lagi tiga tapi empat”, ucap Riri sambil mengerling manja pada Raymond. Akupun menyalami Raymond. “salam kenal”, ucap Raymond. “Hello and good bye”, sahutku. Lalu akupun menarik koper tangan dan satu tas besar yang nantinya akan kuletakkan di cabin. Aku melambaikan tangan sekali lagi sebelum masuk ke dalam ruang bandara. Selamat tinggal papa mama, selamat tinggal oom dan tante, selamat tinggal para sahabat centilku, selamat tinggal Jakarta, see you whenever I see you again…

by: Audie Jo Ong, August 2010

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s