V=R2 : part II

Kudorong trolly berisi satu kopor besar, satu kopor tangan, serta satu tas ransel yang berisi laptop kerja dan segala tetek bengek kelengkapan dokumen untuk mengurus perpanjangan surat bukti bahwa aku masih warga negara Indonesia meski sudah hampir sepuluh tahun berdiam di negaranya Prins Willem.

“Siskaaaaaa!!”. Sebuah teriakan super duper kencang yang membuatku jantungku hampir turun ke usus memaksaku menengok ke anjungan penjemputan di terminal 2 Bandara Soetta. Karuan semua mata tertuju kepadaku dan, tentu saja, si pemilik teriakan histeria tadi. “Retno? Retnoooooo!!!!”, aku membalas teriakan Retno sambil mendorong trolley-ku setengah berlari. Retno melambai-lambaikan tangannya ke arahku. Di pelukannya kulihat seorang anak perempuan mungil berusia sekitar 1 atau 2 tahun sedang menangis. Mungkin shock mendengar teriakan ibunya tadi. Kasihan…

say hi dulu dong ke auntie Siska. Hi auntie, my name is Carla”, bujuk Retno pada anaknya yang masih mewek dan tampak tidak nyaman karena dipaksa bersalaman dengan ‘orang asing’ sepertiku. “Re, sekarang manggilnya auntie ya? udah enggak bu’de or bu’lik lagi?”, tanyaku sehabis mendengar ucapan Retno tadi.  Retno menggeleng. “Males ah! Lu kan orang luar negeri so ya gue ajarin suami and anak gue buat manggil lu auntie. Kalau si Riri tuh baru gue suruh panggil bu’lik”, ucap Retno sambil cekikikan. “eh iya. Mana si Riri?”, tanyaku sambil celingukan. “lagi di rumah. Anaknya lagi agak anget badannya. Kemarin abis batuk pilek gitu. Kasihan. Enggak dikasih ASI sih dulu”. Aku hanya menyahuti ucapan Retno dengan “ooo…” sambil mengangguk-angguk sok tahu. “lu sendiri kapan?”, tanya Retno lagi. “kapan apanya?”, tanyaku balik. “kok balik nanya. Jangan geje deh!”, cetus Retno. “abis enggak jelas gitu ngomongnya. Kapan apa? Kapan nikah, kapan punya anak, kapan menetap di Jakarta lagi, kapan mati, atau kapan apa…”, jawabku. “kapan nikah dan kapan punya anak!”, balas Retno sambil menatapku menyelidik. Serem…

Jujur, pertanyaan sejenis ‘kapan nikah, kapan punya anak’ merupakan pertanyaan sehari-hari yang selalu ditanyakan papa dan mama setiap kali kami saling kontak via telepon. Aku sampai hampir mati jemu mendengarnya. “please deh ma, nanti juga Siska nikah dan punya anak kok…belum waktunya aja…tunggu tahun depan ya ma…”. Itu selalu jawaban standart-ku ke mereka. Sebenarnya bukan aku tidak punya calon. Jan Koeman adalah laki-laki yang telah mengisi hatiku selama 3 tahun terakhir ini. Namun kami memang sepakat untuk tidak menikah dahulu sampai usia kami mencapai 30 tahun…which is enam bulan lagi! So menurutku, apa salahnya sih menunggu setahun lagi?? Sampai saat ini memang keberadaan Jan masih aku rahasiakan ke saudara-saudaraku yang lain. Papa dan mama yang sudah kukenalkan dengan Jan via telepon juga kuminta untuk menjaga rahasia ini rapat-rapat. Dan ternyata they’ve done a great job! 🙂

Sebenarnya kalaupun rahasia itu bocor juga tidak ada masalah sih. Tapi terus terang aku males aja dengerin ocehan dan cecaran pertanyaan dari para oom dan tante serta sepupuku si centil kuadrat ini. “Sis! Kok bengong sih?!”, Retno mencolek lenganku ketika kami sedang duduk dalam mobil yang melaju di jalan tol. “diliatin terus sama Carla tuh!”, sahutnya lagi. Aku langsung mengalihkan pandangan ke si kecil Carla yang tengah minum air putih sambil ‘mengawasiku’ dengan kedua mata bundarnya. “hai sayang. Auntie bengong ya tadi? Sorry…auntie masih ngantuk nih…”, jawabku sambil berpura-pura menguap. Carla tertawa namun Retno tidak. Aih…

Setiba di rumah, ternyata para oom, tante, dan sepupuku sudah berkumpul disana. Mama menyambutku di pintu depan. “Siska!”, lalu tangisannya-pun pecahlah. Aku memeluk mama erat-erat sampai aku yakin sedetik lagi aku teruskan mama pasti pingsan kehabisan nafas! “sudaaah…kasih kesempatan dong sama papa. Kan papa juga kangen Siska”, ucap papa sambil merangkulku. Dalam pelukan papa, entah kenapa, tangisanku malah yang meledak. Ah betapa rindunya aku pada laki-laki bijaksana yang rambutnya sudah hampir seluruhnya memutih dengan keriput disana sini…

Malam itu mama menyiapkan opor ayam kesukaanku, lengkap dengan ketupat dan kerupuk udang kegemaranku. Kami semua makan dan mengobrol sampai malam. Dan pertanyaan yang paling kuhindari itupun akhirnya dicetuskan oleh bu’de Suyono, ibu Riri. “kapan giliranmu menikah, Sis? Inget loh, biarpun kamu udah kecantol bule tapi tetep aja nikahnya harus pake adat Jawa”. Mendengar ucapan bu’de, mama langsung bereaksi. “ndak harus kok mbakyu. Kalau nanti nikahannya di Belanda ya pake cara modern aja. Enggak harus pake adat-adat Jawa kayak si Riri dulu”. Bu’de Suyono diam saja tapi dari raut wajahnya aku bisa menangkap aura ketidak senangan disana. Salah sendiri! kenapa juga lancang nasehatin anak orang? 🙂

Menjelang pukul sembilan malam tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan rumah. Dari dalamnya turun seorang laki-laki separuh baya dan seorang perempuan muda yang sedang menggendong bayi. Aku terpana sesaat begitu mengenali sang ibu muda tersebut. Riri?? Segera aku berdiri dan berjalan menyambut kedatangan Riri dan si paruh baya tersebut. “Apa kabar Ri?”, tanyaku sambil mencium kedua pipinya. “Baik Sis. Lu? Sehat?”, tanya Riri. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. “kenalin Sis. Ini Baskoro, suamiku”, ucap Riri. Kami bersalaman. Duile…enggak salah nih si Riri? Ini mah cocoknya jadi mertua, bukan suami…

“si Vivi apa kabar? Kalian udah enggak pernah saling contact lagi sama dia?”, tanyaku pada Riri dan Retno ketika hanya kami bertiga duduk di meja makan malam itu. “tauk deh! Tanya aja sama si Riri”, jawab Retno ketus. Aku melirik Riri. “baik-baik aja sih. Lagi hamil”, balas Riri tanpa menoleh ke arahku.  “nikah ama siapa dia?”, tanyaku lagi penasaran. “Raymond”, jawab Riri. “Oooo…jadi dia yang berhasil nge-gaet si Raymond? Enggak berantem lu sama dia?”, tanyaku pada Riri iseng. Riri menggeleng lalu menyahut, “mana mungkin gue ribut sama mantu gue sendiri?”. Dan akupun melongo mendengar jawaban Riri tersebut. Ya Tuhan….

by: Audie Jo Ong, August 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s