Ke Sydney, Mengejar Ci(n)ta – Part II

sydney

Angin sejuk yang mengalir masuk diiringi sinar matahari yang menyeruak melalui jendela apartemenku membangunkanku dari tidur lelap pagi ini.  Aku melirik jam. “Huaah!!….baru jam 03.00??”. Aku bersiap-siap hendak melanjutkan tidurku yang terputus tadi. Eh? Tunggu dulu! Jam 3 pagi?! O my God! Jam ini kan masih pakai waktu Jakarta?? Aargh!!! Tanpa berpikir dua kali aku langsung menyambar handuk dan lari pontang-panting menuju kamar mandi.

Tiga menit! waaw…ini adalah waktu terbaikku. Tanpa perduli pada lambungku yang sudah mulai berteriak minta diisi, lekas-lekas kulangkahkan kaki keluar dari apartemen tiga lantaiku sambil menyandang tas ransel biru tua berisi semua perlengkapan kuliahku yang (untungnya) sudah kusiapkan dari kemarin sore.

Setengah berlari aku menuju kampus yang (untungnya) hanya membutuhkan lima menit berjalan kaki dari apartemen. Kulirik jam tanganku. Jam 03.15. Astaga! Aku belum menyetel ulang jam tanganku rupanya. Lekas-lekas kulepas jam tanganku dan mulai menyetelnya ulang.  Sedang asik-asiknya aku berjalan sambil menunduk menyetel jam, tiba-tiba “teeeeeet…ciiiiiiit!!!”, suara klakson dan derit ban mobil sedan sport berwarna merah maroon yang hanya berjarak lima meter dari tempatku berdiri menyentak kesadaranku. O my God! aku sedang berhenti dan berdiri tepat ditengah jalan rupanya…buru-buru aku mengatupkan kedua tanganku ke arah pengemudi mobil yang (untungnya) tidak menjulurkan kepalanya keluar dari jendela mobil dan memakiku. “I’m sorry!” teriakku sambil langsung mengambil langkah seribu menuju kampus.

Setibanya di kampus, aku mengedarkan pandangan ke seluruh area…O my God! luas amat?? Lekas-lekas kulirik jam tanganku. Pukul 07.20. Not bad!. Masih ada waktu sepuluh menit sebelum kuliah pertamaku dimulai. Cepat-cepat kubuka berkas jadwal kuliah yang kubawa. Building D, Room 105. Kutatap lagi deretan gedung di depanku. A, B, E, F. What?? Panik kuberlari ke gedung B. Tampak ada dua gedung yang berukuran lebih kecil menyembul  diantara gedung B dan E. Dalam hati aku berharap “semoga gedung D…semoga gedung D…” dan tiba-tiba: D. Yeay!! Hatiku bersorak. Kulirik kembali jam tanganku. Pukul 07.25. Bergegas aku berlari ke gedung D dan mencari ruang 105.

Di depanku tampak beberapa mahasiswa bercelana pendek berlari-lari memasuki sebuah ruangan yang pintunya berwarna merah kuning. Tiba-tiba sebuah suara berteriak dari belakangku, “Hey you!”. Aku berhenti dan menoleh ke arah datangnya suara tersebut. Tampak seorang wanita muda, cantik, berambut pirang pendek dan mengenakan setelan semi formal melambai ke arahku.  Aku mendekatinya. “Can I help you?” adalah kalimat tanya pertamaku pagi ini. Ia tersenyum. “Yeap!  New student, right?”. Aku mengangguk dan ia segera melanjutkan “Can you help me bring these material to the class?”. Kembali aku mengangguk dan segera mengangkat sebuah tas jinjing besar berisi poster-poster film. Bersama kami berjalan memasuki ruang 105. Sesampai di kelas sudah ada beberapa mahasiswa yang duduk disana. Si cantik pirang memperkenalkan diri sebagai “Sally”, dosen mata kuliah History of Film.

Selesai kuliah, Sally kembali menghampiriku. “You came from Indonesia, right?”. Aku mengangguk. Sally kembali berbicara, “I had an Indonesian student before and he was so nice. It was about two years ago”.  Aku tersenyum sambil menimpali, “Well, not everybody came from that country is being nice”. Sally tertawa, “ha ha..but most of them are nice! At least, look, you, who was being so nice helping me this morning”. Aku tertawa kecil mendengar pernyataannya. Belum sempat aku menanggapi, tiba-tiba cell phone Sally berdering. “Hello…Aaron? Hi! No I just finished my class. What? Tonight? Really? Ok. Ok, I’ll be there at six. Bye honey!”. Sally menyudahi  percakapannya dan menoleh ke arahku. “Can you help me again this time?” sambil menunjuk ke tas jinjing merah jambu yang tadi kubantu bawa kedalam kelas. “Ok!”, sahutku cepat. Kami berjalan beriringan menuju mobil sedan sport-nya yang diparkir tepat di samping gedung D. Ketika aku mengamati mobilnya dengan seksama, akupun langsung berteriak dalam hati “O my God! ini mobil yang tadi pagi hampir menabrakku!”. Aku sempat melirik sekilas ke Sally namun ia tampak acuh.

Aku membuka pintu kiri mobil dan meletakkan tas jinjing Sally ke jok mobilnya. Tiba-tiba mataku tertumbuk pada sebuah benda kecil yang jatuh tepat di bawah tempat duduknya. Perlahan kupungut benda tersebut. Sebuah lencana berbentuk kanguru. Hmm…this is weird? Saat aku masih memegang lencana tersebut tiba-tiba Sally berjalan mendekatiku. “What is that? Ow! That’s Aaron’s badge! Ha ha ha…he was looking for it like crazy in the last couple of weeks and you found it in just few seconds! Ha ha ha…thanks!”. Aku terdiam dan berpikir, “Aaron’s badge? What’s he doing for a living?”. Seakan bisa membaca pikiranku, Sally lanjut berbicara, “Aaron, my fiancé, is a pilot. He works for our national airline industry”. Demi mendengar hal tersebut, duniaku langsung berputar…berpendar….”O my God! Don’t say to me that my Aaron is her Aaron…”.

(to be continued)

picture courtesy of: http://www.sydney.com

by: Audie Jo Ong, December 2010

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s