Ke Sydney, Mengejar Ci(n)ta – Part III

sydney

Malam ini aku tidak bisa tidur. Hatiku gelisah memikirkan Aaron dan Sally.  Sebenarnya aku tidak terlalu mempedulikan Sally tapi tetap saja aku tidak bisa mengenyahkan pikiran tentang hubungan mereka dari kepalaku. Aargh!! apa peduliku sebenarnya?? Aaron toh bukan siapa-siapa buatku. Kami hanyalah dua insan yang kebetulan berkenalan di airport, dan itupun karena kami sama-sama menunggu koper dan trolley-nya tidak sengaja menabrakku dari belakang lalu kami ngobrol sekedarnya sambil bertukar nomor telepon dan berharap untuk someday bisa bertemu lagi….hey!! wake up, girl! Aaron is already engaged to Sally!!

Hari sudah menunjukkan pukul 04.00 pagi ketika rasa kantuk menghampiriku. Kebetulan hari ini aku tidak ada kuliah kelas tapi aku sudah berjanji dengan beberapa teman untuk mengerjakan paper secara berkelompok di perpustakaan kampus. Hoaa’eem…aku menguap dan merentangkan kedua tanganku ke samping dan ke atas, setinggi mungkin sampai berharap bahwa keduanya bisa menggapai plafon, dan setelah itu segera menuju kamar mandi. I need to take a long shower. Hope it can take Aaron out of my mind…

Hey! Where have you been? We’ve been waiting for you like hours!”. Sapaan ramah khas Brandon menyambutku saat aku melangkahkan kaki memasuki ruang perpustakaan. Sssssssh! Kami serempak menengok ke arah datangnya suara dan tampaklah Miss Taylor, petugas perpustakaan sedang menatap kami dengan pandangan yang tidak bersahabat. Aku melambai ke arah Miss Taylor sambil tersenyum ramah kepadanya dan kemudian melangkah ke meja bundar tempat teman-temanku duduk. “Sorry guys. I am thirty minutes and forty-ttwo seconds late”, ucapku. “what?? Na-ah! You are almost one hour late!”, desis Cathy kesal. “Okay okay. Look. I am sorry. Okay?”, jawabku sambil memandangi mereka. Cathy hanya mengangkat bahu sementara Brandon hanya mengangkat kedua alisnya dan Luke tersenyum samar. “Okay. Case closed. Where were we?”, ucap Cathy. Lalu kamipun mulai berdiskusi.

Diskusi panjang dan melelahkan, yang terkadang diselingi dengan senda gurau dan perdebatan itu akhirnya selesai tepat lima jam setelah kami memulainya. Aku melangkah keluar dari ruang perpustakaan dan berjalan ke arah kantin kampus.  “Margrit? Is that you??”. Sebuah suara yang ramah menyapaku. Aku menoleh. O my God! Aaron??….Aaron berjalan menghampiriku sambil tersenyum. Ia mengulurkan tangannya ke arahku. “How are you doing? It’s good to see you”, ucapnya sambil memamerkan deretan gigi putihnya. Aargh! mengapa ia tetap terlihat begitu tampan setelah…setelah semua yang ia lakukan terhadapku??…wait a minute! He’s doing nothing anyway! It’s just me and my stupid mind!”, gerutuku dalam hati sementara wajahku memasang senyuman manis kepadanya. “I’m fine. Didn’t expect to meet you here though”, ucapku memancing. “Ha ha ha..yeah! me too! Ha ha ha”, jawabnya riang. Tembakanku tidak mengenai sasaran rupanya. Aku berdehem sebentar sebelum melanjutkan, “So? What are you doing here? Didn’t you suppose to be in the air or something?”, pancingku lagi. Aaron terdiam sebentar sebelum melanjutkan, “Gotto meet someone here”. Aha! Pikirku senang, Aaron baru akan melanjutkan ucapannya ketika seseorang setengah berlari memasuki kafetaria. “Hey bro! sorry I’m late!”. Kami berdua menoleh dan aku terpana. O my God! betapa menariknya mahluk yang sedang berjalan ke arah kami. Mahluk manis yang mengenakan t-shirt Hardrock Café dan corduroy biru tua itu adalah adik laki-laki Aaron yang bernama Logan, mahasiswa jurusan fisika. Logan menyalamiku ramah. “Do you come from Indonesia?”, tanyanya basa basi. Aku mengangguk sambil mengatur detak jantungku yang sudah mulai tidak beraturan. Aaron kemudian menanyakan apakah aku ada rencana sore itu dan kujawab, “So far no. Why?”. Aaron menjelaskan bahwa ia dan Logan akan ke Dymocks untuk mencari hadiah untuk adik mereka yang besok berulang tahun. “Do you wanna come with us? We can have a coffee or tea afterwards..”, tawar Aaron. Aku terdiam sambil mencoba-coba mencari alasan yang tepat untuk berkata tidak pada tawaran tersebut. Namun ketika aku membuka mulut jawaban yang keluar adalah, “Okay”. O my God! aku memukul kepalaku sendiri. Pelan tentu saja. What a stupid girl!!

Ternyata berjalan bersama Aaron dan Logan adalah salah satu keputusan paling tepat yang pernah kubuat selama dua puluh delapan tahun aku hidup. Those boys are so nice! Logan yang semula tampak agak pemalu dan pendiam dibandingkan Aaron ternyata mampu menjelma menjadi teman bicara yang sangat menyenangkan hanya dalam tempo beberapa jam setelah perkenalan kami di kafetaria kampus. O my God! kayaknya aku mulai suka nih sama Logan. Aargh! stupid girl! Gampang amat sih jatuh cinta??

Setelah puas menyusuri rak-rak buku di Dymocks , kami bertiga-pun melanjutkan perbincangan di coffee shop mereka yang menyatu dengan toko buku. Saat aku sedang asik mengaduk-aduk gula dalam cangkir teh-ku, tiba-tiba handphone Logan bordering. Terdengar suara seorang perempuan di seberang sana. Aku mencoba untuk tetap diam dan tidak mencuri dengar percakapan mereka. Logan tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sesaat setelah menutup telepon. Aaron menoleh sambil bertanya, “What? You girlfriend?”. Logan menyahut singkat, “Yeah. She wants to come tomorrow to the birthday party”. Aaron bertanya lagi, “and what say you?”. Logan menjawab, “Of course I say no!”.  Nada suaranya terdengar ketus di telingaku. Hm? Lagi berantem rupanya, pikirku senang. Wait?! Why I felt happy about this?? O my God!.  Sseperti memahami jalan pikiranku, Aaron tiba-tiba berbicara stengah berbisik kepadaku, “I am glad that his girlfriend will not come tomorrow”. Tiba-tiba Logan menyahut, “Hey! Keep your mouth, bro! you don’t have a right to say that!”. Aaron baru akan menyahuti Logan ketika aku dengan tiba-tiba, entah dengan kekuatan darimana, berdiri dan mengatakan, “I need to go to a restroom. Sorry”. Keduanya langsung terdiam namun aku masih bisa melihat Logan memandang kakaknya dengan sinar mata yang kurang senang. O my God! Why do I have to be here with these two boys??…

 

(to be continued)

picture courtesy of: http://www.sydney.com

by: Audie Jo Ong, December 2010

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s