Ke Sydney, Mengejar Ci(n)ta – Part IV

sydney

Sepulang dari acara jalan sore dengan Aaron dan Logan, aku kembali ke apartemenku. Nafsu makanku mendadak lenyap entah kemana tadi, padahal Aaron masih mengajakku untuk makan malam dulu sebelum kami berpisah arah. Handphone dalam tas ransel-ku tiba-tiba bergetar. Kubaca nama Aaron ada disana. Dengan enggan kutekan tombol untuk berbicara dan “Hello?”. Tidak terdengar tanggapan apapun dari Aaron. Aku mengulang kembali “Hello? Aaron?”. Tetap tidak ada jawaban apapun dari Aaron. Dengan kesal kumatikan handphone-ku. Apa-apaan sih ini orang?? Kalau enggak niat telepon ya jangan telepon dong!, sungutku dalam hati. Tidak sampai satu menit berlalu, handphone-ku kembali berbunyi. Aaron! O my God! mau ngapain sih ini orang?? Dengan kesal kutekan tombol untuk menerima telepon masuk, “Hello??”. Kali ini sapaanku mendapat sahutan. “Margrit? It’s me. Logan”. Sejenak aku melepas handphone dari telingaku dan menatap layarnya sekali lagi. Betul kok tertulis nama Aaron disana. Trus kenapa jadi Logan?? Ah peduli amatlah!. “Logan? Hi! what’s up?”, jawabku berusaha ramah. “Nothing. Just check whether this is your number or not”. Dengan kesal aku menyahut, “What?? What do you mean by my number?? This is my number!”. Logan tertawa kecil diseberang sana. Iiih! Apa-apaan sih ini orang?? Karena tidak bisa mendengar gerutuan hatiku maka Logan kemudian melanjutkan, “Sorry, I just want to hear your voice. That’s all. Had you have something to eat?”.  Aku terdiam mendengar ucapannya. O my God! dia lagi becanda kan?? Tiba-tiba Logan berbicara lagi, “Hello? Margrit? Are you still there?”. Tergagap aku menyahuti pertanyaannya, “Yeah I’m here. What was your question about? Dinner? Nope. I didn’t have a chance to have one”. Aku memukul kepalaku sendiri begitu mendengar kata-kata yang keluar dari mulutku. Stupid girl! Ngapain juga bicara terus terang begitu?? Logan menyahut lagi, “Me too. Free tonight? Maybe I can go to your place and we can have dinner somewhere?”. Aku terdiam lagi. Hmm?? Bukannya tadi kami baru bertemu? Ngapain juga mau ke tempatku segala?? Aku menjawab, “Uhm..I don’t think I can cook now”. Logan cepat-cepat memotong ucapanku, “I didn’t ask you to cook. I ask you to go out with me and have dinner somewhere near to your place. What say you?”. Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. C’mon girl! Think think think! Tiba-tiba aku mendapat ide cemerlang, “I have paper to be presented tomorrow, Logan. I don’t think I can go out right now. I need to clean up and make a preparation for tomorrow”. Terdengar suara Logan menarik napas dan kemudian menyahut, “Ok then. Next time maybe? Hope you didn’t say that because you want to get rid of me..”. Entah kenapa aku merasa tidak enak hati mendengar ucapannya itu. Cepat-cepat aku menyahuti, “Tomorrow I will come to your house then. I promise”. Logan menyahut, “Promise? Ok. See you tomorrow then..”. Aku segera menjawab lagi, “Ok. Bye, Logan”. Dan ia-pun menyahutiku lagi, “Night sweetie. Good luck with the paper. Sleep tight. Good bye”. Klik! Dan hubungan telepon kami-pun berakhir. Aku masih berdiri terpaku di tempatku. Pikiranku mencoba mencerna alasan Logan meneleponku dan ucapan penutupnya tadi. Sweetie?? Memangnya aku pacarnya?? Aargh!!

 Pagi ini aku bangun dengan badan yang masih terasa pegal namun hati dan kepalaku terasa sangat ringan. Segera aku menuju kamar mandi dan menghampiri tumpukan baju kotor yang sudah tiga hari ini tidak terpegang olehku dan memasukkannya kedalam kantong plastik. Tujuan pertamaku hari ini adalah ke basement apartemen tempat disediakannya mesin cuci dan pengering. Bergegas aku mandi dan untuk menghemat waktu segera kusambar sekotak biscuit kering asin dan sekotak juice buah segar sebagai pengganjal perut sementara menunggu cucianku selesai nanti.  Tidak lupa kusambar novel Nicholas Sparks yang baru kubeli kemarin di Dymocks. Bergegas aku menuju lift apartemen. Kutekan tombol turun dan ting! Pintu lift terbuka. Tergesa-gesa aku masuk kedalam lift tanpa memperhatikan bahwa ada sebuah sosok yang sedari tadi berada dalam lift dan sedang menatapku tajam. Ketika pintu lift terbuka di basement, aku-pun segera melangkah keluar dari lift diikuti oleh sosok tersebut. Aku mash belum menyadari keberadaanya karena pikiranku masih penuh dengan rencana-rencana hari itu. “Margrit!”. Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke arah datangnya suara tersebut. Aku tergagap. “Logan? What are you doing here??”. Logan mendekatiku. Tidak ada senyum terpampang disana. “I was looking for you in our campus but I couldn’t find you there. I tried to call you but your cell phone is off. I was worried enough then I decided to come”. Aku terdiam mendengar penjelasannya. Tiba-tiba aku teringat bahwa baterai handphone-ku memang habis dari semalam dan aku belum men-charge-nya ulang. Aku menelan ludah sebelum akhirnya menjelaskan, “I am so sorry, Logan. I lied to you last night. I didn’t have class today and the paper was for next Monday. My cell-phone was off since yesterday night and I forgot to charge and..”. Kalimatku belum juga selesai ketika Logan mengangkat lengan kanannya dan berkata, “Hey, don’t be. It’s ok. I just came by to tell you that my sister’s birthday party is cancelled. She got fever last night and my mom decided to wait until she’s getting better. So you don’t have to come to our house tonight”. Ia tersenyum dan O my God! betapa menawannya senyuman itu. Hatiku langsung berdebar tak beraturan. Melihatku salah tingkah, Logan segera menghampiriku dan mengambil tas plastik yang tengah kujinjing serta menggandeng tangan kiriku dan berjalan menuju laundry center. Cepat-cepat kumaki diriku dalam hati, “Stupid girl! Aku sampai lupa tujuanku ke basement ini!”. Logan menoleh kearahku dan aku memberi senyuman termanisku kepadanya. “Thanks”, ucapku singkat yang dijawabnya dengan sebuah anggukan kepala.

Hari ini Logan menjadi kencan dadakan-ku. Kami makan siang bersama di pusat kota, berjalan-jalan ke Bondi Beach, menghabiskan dua porsi waffle ice cream di Max Brenner, dan makan malam di salah satu resto Malaysia terlaris di China Town. Tanpa sadar hubungan kami menjadi sangat dekat hingga kami lupa bahwa kami bukanlah sepasang kekasih. Kami hanya dua orang teman yang baru saja berkenalan dan (mungkin saja) sedang kesepian? Entahlah….aku tidak mempedulikan semuanya itu hingga saat kami tiba di pintu apartemenku dan tiba-tiba Logan menciumku! Ciuman yang hanya berlangsung lima detik itu ternyata mampu melumpuhkan seluruh syaraf motorik-ku. Aku tidak menolak maupun membalas ciuman tersebut. Dan setelah Logan berlalu dari hadapanku barulah aku menyadari kebodohanku tadi. O my God! What a stupid girl you are, Margrit!

(to be continued)

picture courtesy of: http://www.sydney.com

by: Audie Jo Ong, January 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s