Ke Sydney, Mengejar Ci(n)ta – Part IX

sydney

Aku meletakkan handphone-ku diatas meja makan. Lama aku berdiri sambil menyandarkan diri pada dinding pantry apartemen dan memejamkan kedua mataku. Pikiranku masih mengembara kepada Logan. O my God! He has a girlfriend while going out with me??…bisa-bisanya aku ini ke-ge er-an dan berpikir bahwa dia cinta sejatiku?? Stupid girl!….masih terbayang olehku perjalanan kami keliling kota Sydney, Blue Mountains, dan ciuman singkat kami didepan pintu apartemenku beberapa hari lalu…dan sekarang semuanya itu harus berakhir karena ternyata ada seorang gadis yang patah hati dan berniat bunuh diri hanya karena takut kehilangan Logan??…O my God! I won’t  let myself die only for a man!…handphone di atas meja makanku bergetar. Segera aku melangkah menuju meja makan untuk menjawab panggilan telepon masuk tersebut. Aaron? Aduh! Apalagi ini?? Tapi tak urung kujawab juga panggilannya. “Hello?”. Terdengar suara perempuan menyahut dari seberang sana. “Margrit? It’s me Sally! Hi!”. Oooh Sally rupanya. “Hi Sally. What’s up?”. Sally tertawa ringan dan kemudian berkata, “Do you have time this Thursday? Around 4 pm?”. Aku melirik sekilas ke kalender meja yang kutaruh diatas televisi. No appointment. Yes. Why?”. Sally melanjutkan lagi, “Me and Aaron would love to invite you for a coffee and dinner in central. East West Café. Will you be there with us?”. Jujur aku merasa malas untuk memenuhi ajakan mereka tapi entah kenapa aku merasa bahwa tidak ada salahnya pergi bersenang-senang untuk beberapa saat…”Ok. I’ll come”. Sally segera menjawab, “Great! I’ll tell Aaron. See you Thursday!”. Lalu hubungan telepon-pun terputus. O my God! I forgot to ask if Logan will also join or not?! Stupid girl!

“Miss Tedjokusumo! Can you explain what is the meaning of these phrases?”. Aku terkejut bukan main mendengar suara Professor Peterson yang (menurutku) begitu menggelegar siang hari ini.  Bagaimana tidak? Aku sedang melamun tentang Logan dan kemungkinan perjumpaan kami sore nanti di East West Café ketika Professor menyuruhku menjelaskan pengertian dari penggalan kata dan kalimat yang baru saja dibacakan oleh salah seorang temanku. O my God! Which phrases did he mean?? Aku menatap kosong ke arah Professor Peterson dan tampaknya ia cukup mengerti keadaanku. Ia melepas kaca matanya dan kemudian menunjuk ke temanku yang lain. “Can you help her, Mister O’Reiley?”. Temanku mengangguk dan kemudian memulai penjelasannya. Aku berusaha mendengarkan dengan seksama. Yah, berusaha karena Logan masih memenuhi pikiranku dan itu amat sangat menganggu!! God…I wish I can get rid of him soonest! Aku kuatir kalau aku tidak segera mengenyahkan dia dari pikiranku maka aku akan berakhir menyedihkan seperti Alison. O no! I won’t be like that! O help me, God….

Akhirnya kuliahpun selesai tepat lima belas menit sebelum jadwal kereta api ke Central dari stasiun kampusku. Segera kukemas seluruh catatanku dan kumasukkan ke dalam ransel biru tuaku dan setengah berlari aku menuju stasiun. Aku sedang berjalan sambil mengeluarkan dompet untuk mengambil tiket kereta terusan ketika tiba-tiba suara klakson mobil mengejutkanku. Aku menoleh dan kulihat Sally melambai ke arahku dari dalam mobil merah maroon-nya. “Margrit! Come on in!”.  Tanpa berpikir dua kali segera aku berlari menuju pintu kiri depan mobil Sally dan duduk di dalamnya. “It will be quicker if we go by car. The traffic is good, Aaron said”, ujar Sally.  Aku tersenyum. Sally tertawa kecil sambil melanjutkan, “Yeah of course…Aaron told me. That’s why I choose to drive than using train today. So I can take you home tonight”. Aku menyahut ringan, “Thank you”. Lalu Sally memutar sebuah CD instrumental untuk kami nikmati sepanjang perjalanan yang memakan waktu sekitar 20 menit itu.

Saat kami tiba di East West Café, ternyata Aaron telah berada disana. Tampak ia tengah berbincang dengan seorang laki-laki yang rambutnya dipotong agak cepak dan duduk membelakangi pintu masuk. Sally berjalan didepanku, dan ketika kami memasuki café Aaron segera berdiri dari tempat duduknya dan memnyambut Sally. Laki-laki temannya itu-pun ikut berdiri dan menyalami Sally dengan ramah, “Hi Sally. Nice to meet you again. I thought you won’t be able to join”. Sally tertawa kecil dan kemudian menjawab, “Yes I thought it was in the morning. But since it’s in the afternoon then here I am…”. Aku berdiri agak menjauh dari mereka. Ada sedikit rasa iri menyelimuti diriku. Seandainya masih ada Logan di sisiku, mungkin aku tidak akan salah tingkah seperti ini..Tiba-tiba kudengar suara Aaron memanggilku, “Margrit! Hi how are you? Thanks for coming. Let me introduce you to our new friend, Russell. Russell, this is Margrit. Margrit, this is Russell. Please take a seat”. Aku menyalami Russell, tersenyum ramah, dan kemudian mengambil tempat duduk di sebelah Sally. Sambil menikmati pembicaraan mereka, dan sesekali terlibat dalam perbincangan, aku mengamati Russell. Tinggi, agak gemuk, pertengahan 40an, ramah dan tampak menyenangkanhmm…not bad, pikirku senang. O my God! What did you, Margrit?? Are you flirting with him?? He might have a wife and kids who are waiting for him at home right now! Stupid girl! Aku memaki diriku sendiri. “So Margrit, did you come from Indonesia? What are you doing here? Studying or working?”. Suara Russell membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum sekilas dan menjawabnya, “I am a student. Sally’s student actually”.  Russell bertanya lagi, “In what subject?”. Sally segera menyahut, “film and media studies”. Russell mengangguk-angguk dan kemudian tersenyum ke arahku. Entah kenapa ada rasa hangat menjalari hatiku saat melihat senyumannya itu. Ada perasaan senang yang tidak bisa kugambarkan saat mata kami saling menatap. O my God! What is with me?? Stupid girl! Easily falling in love…

Kami melanjutkan percakapan di café sore itu dengan makan malam di salah satu restoran Asia yang terkenal di wilayah China Town. Perlahan tapi pasti aku mulai mengumpulkan kepingan informasi mengenai Russell. An Australian, duda beranak 1 (istrinya meninggal setahun yang lalu karena sakit), berprofesi sebagai painting analyst, dan berusia diatas 40 tahun. Hm…not bad…not bad at all….pikirku senang. Tiba-tiba…ouch! Kaki Sally menyenggol kakiku. Aku menengok dan menatap Sally. Ia mengernyitkan kedua alisnya ke arahku sambil menggelengkan kepalanya perlahan. Aku tersenyum sambil mengangguk. Aku melamun dan itu terlihat oleh Sally rupanya. “More water?”. Aku menoleh ke depanku. Tampak Russell tengah mengangkat botol berisi air putih dan siap menuangkan ke gelasku. Cepat ku sodorkan gelasku sambil menyahut, “Yes please. Thank you”. Russell menatapku sambil tersenyum ramah, “Your welcome”. Tangan kami bersentuhan ketika ia mengulurkan gelas minumanku. O my God! kulitku seperti terkena sengatan listrik voltage rendah! Wajahku sedikit memanas. Kutatap Russell dan ia tampak biasa-biasa saja. Ekspresi wajahnya tetap sebagaimana sebelumnya. O my God! cintaku bertepuk sebelah tangan??….

(to be continued)

picture courtesy of: http://www.sydney.com

by: Audie Jo Ong, March 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s