Ke Sydney, Mengejar Ci(n)ta – Part VI

sydney

Kupandangi lagi handphone-ku sesaat sebelum tidur. Rasanya masih tidak percaya bahwa Logan mengajakku kencan besok. Kencan pertama kami? Bukan! Kencan kedua kami. Kencan pertama kami adalah hari ini dan saat…dan saat ia menciumku tadi! Tanpa sadar kuraba kedua bibirku..masih bisa kurasakan hangatnya bibir Logan disana..aah sudahlah…sudah pukul sebelas malam…sudah waktunya tidur…good night, Logan…sleep tight…tanpa sadar bibirku menyunggingkan sebuah senyuman…dan tidak sampai beberapa detik kemudian-pun aku tertidur pulas.

Kriiiiiiiiing!!!!! Suara weker yang memekakkan gendang telinga terdengar amat keras pagi ini. Hah! Siapa sih orang gila yang sepagi ini sudah membangunkan orang lain?? Dengan enggan aku memaksakan diri untuk duduk dan memandang sekeliling ruangan. Tiba-tiba…ya ampuuun…yang tadi Itu suara weker-ku?? Cepat-cepat kuraih weker yang  terletak diatas meja belajarku. Pukul 6.30 pagi. Heeh…ini kan setting-an jam bangunku tiap hari Senin dan Rabu saat ada kuliah pagi jam 7.30 L  Kuletakkan lagi weker bergambar Goofy berwarna hijau orange tersebut diatas meja belajarku dan sambil menguap aku berjalan menuju dapur. Kubuka refrigerator dan meneliti isinya satu per satu: telor mentah, sayuran yang sudah mulai layu, daun bawang, seledri, tiga irisan salmon, dan sebuah bungkusan makanan dalam plastic putih. Hmm? Apa ini ya? Kuambil bungkusan tersebut dan ketika kubuka ternyata…O my God! ini sisa kwetiau sea food dari resto Malaysia semalam. Kucium aroma yang keluar dari sisa makanan tersebut. Masih cukup harum. Dan akupun memutuskan untuk memanaskan kwetiau tersebut. Not bad for breakfast! Piikirku sambil tersenyum.

Sedang asik-asiknya aku memanaskan masakan, bel pintu masuk apartemenku berbunyi. Bergegas aku menuju ke intercom yang dipasang dekat pintu masuk apartemen. “Yes? Who’s there?”, tanyaku. “Margrit? It’s Logan. Can I come in?”. Cepat kulirik jam dinding yang tergantung diatas televisi.  O my God! Sudah jam tujuh lewat lima belas menit??  Tanpa berbasa-basi lagi segera kutekan tombol merah di intercom tersebut untuk membiarkan Logan masuk dan kubuka juga akses masuk ke dalam apartemenku. Klek! Gagang pintu terbuka dan tampak kepala Logan menyembul. “Good morning…not ready yet?”, tanyanya sambil tersenyum meski (berani taruhan) hatinya pasti dongkol karena melihatku belum sarapan dan berganti pakaian. “Morning..breakfast?”, tawarku basa basi..berharap ia tidak melihat rasa tidak enak hatiku yang sedari tadi menyelimuti perasaanku dan tidak kunjung beranjak juga. Semakin manis ia tersenyum, semakin bertambah rasa bersalahku padanya. “No thanks. I’m not a breakfast person. I’m a brunch man”, tolaknya halus. Aku mengangguk-angguk dan kemudian tanpa memindahkan isi kwetiau dari penggorengan ke dalam piring, aku mengambil sumpit dan segera kulahap kwetiau tersebut hingga licin tandas. Logan memperhatikan kegiatanku sambil melipat tangannya di dada. Setelah isi penggorengan tandas, Logan bertanya, “Enough? Want some more?”. Aku menatapnya dengan mulut yang masih penuh mengunyah.  Kugelengkan kepala sambil mengisi gelas minumanku dengan fresh water dari keran. Kuhabiskan isi gelasku dan meletakkannya di tumpukan piring kotor dan sambil berlari ke kamar mandi aku berteriak kepada Logan, “Five minutes, Logan!”.

Aaah segarnya mandi…aku melangkah keluar dari kamar mandi dan langsung menuju kamar tidur untuk berganti pakaian. Sekilas kulihat Logan sedang asik menonton televisi di ruang tamu. Dengan tidak membuang-buang waktu segera aku ganti mantel mandi-ku dengan t-shirt biru muda dan celana sedengkul berwarna biru tua. Rambutku yang sebahu kuikat ekor kuda agak asal dan tak lupa kulapisi kulitku dengan sun block. Kutatap lagi diriku di depan kaca. “Okay! I look great!”, pikirku senang. Bergegas kumelangkah keluar kamar dan kulihat Logan masih duduk di tempatnya tadi namun sekarang ia tertidur. Segera kuhampiri Logan dan kutepuk pelan pundaknya. “Logan? I am ready to go”. Tidak ada reaksi. Kuulangi lagi tepukan di pundaknya. “Logan? Are you okay?”. Tiba-tiba Logan terbangun dan terkejut menatapku. Kedua matanya merah. “Are you okay? You look pretty bad”, kataku sambil menatapnya lurus. Logan mengalihkan pandangannya dariku dan segera berdiri dari tempat duduknya. Aku masih duduk di sofa dekat Logan namun mataku terus mengikuti gerakannya. Kuatir tiba-tiba ia terjatuh atau entah apalah. Logan berjalan menuju kamar mandi dan tidak sampai dua menit kemudian ia keluar dengan wajah segar. “Let’s go!”, ucapnya padaku sambil tersenyum. Aku berdiri dan berjalan mengikutinya ke arah pintu keluar. Tak lupa kusambar ransel biru tuaku yang sudah kuisi dengan beberapa snacks dan minuman ringan sejak semalam. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. “Logan wait!”. Aku berbalik ke arah dapur dan O my God! semua peralatan kotorku telah terjajar rapih di rak piring dalam keadaan bersih. “What’s up?”, tanya Logan sambil menyembulkan kepalanya dari pintu masuk. Aku berjalan menghampirinya dan bertanya, “You wash all my dishes?”. Logan mengangguk. “Yeap. Why?”. Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum. “Nothing. Thanks Logan”, ucapku ringan. “You’re most welcome”, balasnya sambil menggandeng tangan kananku. Lalu kami-pun berjalan menuju stasiun kereta api.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dengan kereta api dan bis selama kurang lebih satu jam kami akhirnya tiba di Blue Mountains. Terik matahari yang menyengat memaksaku mengenakan kaca mata pelindung dan sambil berdecak kagum aku berkata kepada Logan, “Woow…Logan, this is great!!”, ucapku setengah berteriak. Logan tertawa kecil melihat tingkahku yang seperti anak kecil mendapat hadiah ulang tahun. “We are lucky because the sun is shine today. Very bright”, kata Logan. Aku memandangnya sambil bertanya, “And what happen if it’s not?”. Logan menjawab, “Then we can’t see this view. It’s foggy”. Aku mengangguk-angguk dan kemudian tanpa menunggu aba-aba segera berjalan menuju anjungan tempat diletakkannya teropong untuk melihat lekuk-lekuk gunung tersebut dengan lebih jelas. Tampaknya aku berdiri disana cukup lama sehingga tidak kusadari bahwa Logan tidak berada bersamaku. Kuedarkan pandangan ke sekeliling mencari Logan. Where is he?? Aku melangkah meninggalkan anjungan dan mencarinya di dekat tempat orang-orang berkerumun. Tampak Logan tengah duduk dekat water fountain sambil melamun. “Logan?”, panggilku ketika telah mendekati tempatnya duduk. Logan menoleh sekilas kearahku dan mencoba tersenyum. “Enjoy the view?”, tanyanya. Aku mengangguk sebentar namun kemudian menggeleng. Logan mengernyitkan alisnya. “Why?”. Aku mengangkat kedua bahuku dan kemudian duduk disampingnya. “You look weird this morning. Was something bad happened last night?”, tanyaku tanpa bermaksud menyelidik. Logan terdiam dan perlahan menggeleng. Aku tahu ia sedang berbohong. Aku menarik napas dalam-dalam dan kemudian berkata, “Well..I will go back there again. If you need something just call me. Ok?”. Kutepuk pelan paha kanan Logan, lalu aku berdiri dan berjalan menuju anjungan yang tadi kutinggalkan.

(to be continued)

picture courtesy of: http://www.sydney.com

by: Audie Jo Ong, February 2011

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s