Ke Sydney, Mengejar Ci(n)ta – Part VII

sydney

Ladies and gentlemen, this is your Captain speaking. We are now approaching Australia and the local time now is five twenty two in the morning. The weather is good and the estimated time of arrival is seven fifteen so it’s about one hour and fifteen minutes time from now. Thank you”. Aaron meletakkan headset dari kepalanya dan berdiri meluruskan punggungnya. Ia menoleh kearah co-pilot yang sedang menguap dan memberi kode untuk tetap tinggal di tempat sementara ia ke kamar kecil dan mengambil minuman. Aaron melangkah keluar dari cockpit dan menuju toilet kecil yang berada di kabin first class. Saat ia berjalan menuju toilet tiba-tiba penumpang yang duduk di barisan tengah berdiri sehingga tubuh mereka nyaris bertabrakan. “Sorry! I am sorry”, kata si penumpang. Aaron hanya tersenyum sekilas sambil menjawab singkat, “It’s Ok”. Si penumpang yang rupanya terburu-buru ke toilet berjalan mendahului Aaron. “Crazy rich man!”, gerutu Aaron dalam hati.

Setelah meminum secangkir unsweetened black coffee di dapur pesawat, Aaron segera berjalan kembali ke cockpit. “Sir, excuse me”.  Tiba-tiba seseorang menepuk siku lengan kirinya. Aaron menoleh. The crazy man!, pikirnya kesal sambil tersenyum. “Are you the captain? “, tanya si penumpang lagi. Aaron mengangguk, “Yes”.  Si penumpang tersenyum dan kemudian mengulurkan tangan kanannya ke Aaron. “Just want to apologize about what was happened. I am Russell. And you are?”. Aaron menyambut uluran tangan Russell. “Aaron”. Russell tertawa kecil. “Nice to meet you, Aaron. Ok , will talk to you later then”. Russell kembali duduk di bangkunya. Aaron tersenyum sambil menganggukkan kepala sopan dan kemudian membalikkan badan ke arah cockpit.

 

Pesawat yang dikendalikan Aaron mendarat mulus di lapangan udara internasional di Sydney. Ia keluar dari pesawat dan berjalan bersama dengan rekan-rekannya menuju tempat pengambilan bagasi. Saat ia tengah berdiri sambil bertolak pinggang, seseorang menepuk pundaknya pelan. Ia menoleh. “Hi. Russell, right?”, sapanya basa-basi. Russell tertawa kecil sambil melipat tangannya diatas dada. “So for how long you’ve been in Jakarta?”, tanya Aaron. Russell menoleh. “I flew from London actually. There  was an art exhibition there for a week”. Aaron mengangguk-angguk. “Ow okay. So you are a painter?”, tanya Aaron. “No. I am a painting analyst”, jawab Russell sambil berjalan maju mengambil kopornya. Woow that’s a big suitcase! pikir Aaron.  “Did you put paintings in that suitcase?”, tanya Aaron penasaran. Russell menoleh ke arahnya dan kemudian menggeleng. Aaron membantu Russell meletakkan kopor tersebut ke atas trolley. “This is my magic box. I put all my stuffs here. You know the  working equipments”, jawab Russell sambil tersenyum. Aaron mengangguk sambil berjalan mengambil kopornya. Ia menarik pegangan kopornya dan kemudian menariknya ke tempat dimana Russell berdiri. “Well, I got my suitcase already. It’s time to say goodbye now I think”, ucap Aaron sambil tersenyum ramah dan kemudian ia mengulurkan tangan kanannya ke Russell, “Nice to meet you, Russell. Hope we can meet someday”. Rusell menyambut uluran tangan Aaron ramah dan sambil menjabat tangannya ia berkata, “Me too, me too”. Kemudian Russell mengambil sebuah kotak dari kantong depan jaketnya, mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalamnya, dan menyerahkannya kepada Aaron. “Here is my name card. This is my email and cell phone number. Call me and maybe we can have coffee or lunch in the central?”. Aaron menerima kartu nama Russell, membacanya sebentar dan kemudian menatap Russell, “Sure, sure. So you live in the town house in the city central?”. Russell mengangguk, “Yeap. Do you leave nearby?”. Aaron tertawa kecil sambil menjawab, “No. I live in West Ryde. Thirty minutes from central by train”, sahut Aaron. Ada sedikir perasaan tidak enak dalam hatinya menjawab pertanyaan Russell. “Ow okay. Do you drink coffee?”, tanya Russell. Aaron mengangguk. Russell melanjutkan, “So let’s meet up in a coffee shop in central.  There is one coffee shop that I regularly visit named East West. They make a very delicious latte. Have you went there?”. Aaron tertawa sambil menangguk, “Yes! I know the owner. Roberto”. Keduanya mengucapkan nama “Roberto” bersamaan dan kemudian tertawa. Aaron kemudian melanjutkan, “Okay. Thursday afternoon? 4 pm?”. Russell mengeluarkan hanphone-nya dan kemudian mengecek agenda eletktroniknya. “Thursday..Thursday…Thursday is eighteenth, right? Okay. Deal”, jawab Russell sambil mencatat appointment mereka di agendanya. Aaron kemudian mengulurkan tangan kanannya ke Russell. “Alrighty. Well I have to go now. My girlfriend already picks me up”. Russell menjabat tangan Aaron dan kemudian mengangkat tangan kanannya sebagai tanda perpisahan. “Take care!”, ucap Russell. “You too. See ya!”, sahut Aaron. Russell melambai dan kemudian berjalan mendorong trolley-nya ke arah yang berlawanan dengan Aaron.

Setelah melewati security checking, Aaron berjalan keluar dan tampak di dekat pintu keluar Sally sudah berdiri menunggunya. Aaron melambai ke arah Sally, dan Sally-pun segera berjalan menghampirinya. “Hi honey!”, seru Sally. “Heeey…how are you sweetie?”, balas Aaron sambil meletakkan kopornya dan merangkul Sally. Mereka masih asik berpelukan ketika kemudian seseorang menyapa mereka. “Hi!”, sapa orang tersebut. Sally melepas pelukan Aaron dan menengok ke arah datangnya suara tersebut. Aaron membalikkan badannya dan tampak Russell tengah berdiri di belakangnya sambil tersenyum. “Russell! Hi! Uhm this is Sally, my fiancé. Sally this is Russell my new friend”, ucap Aaron memperkenalkan Russell dan Sally. Keduanya berjabat tangan sambil mengucapkan, “How do you do?”. Sally melirik ke arah Aaron dan seperti tersadar akan sesuatu Aaron segera melanjutkan, “We met in the airplane”. Russell segera menyambung penjelasan Aaron, “Yes. We plan to meet up this Thursday morning. It would be lovely if you could join us”. Sally tersenyum dan menggeleng, “I can’t. I have class. Thank you”. Russell mengangguk kemudian melanjutkan, “Okay. Nice meeting you, Sally. Aaron, ‘till Thursday. Good bye”. Aaron melambai ke arah Russell.  

Aaron berjalan mengikuti Sally ke tempat parkir bandara. Tiga menit kemudian sampailah mereka ke tempat diparkirnya mobil sport sedan berwarna merah maroon milik Sally. Aaron segera menuju kemudi dan membuka pintu bagasi. “Woow this is heavy!”, teriak Sally sambil mengangkat dan meletakkan kopor Aaron dalam bagasi. “Yeah! I bring some presents for mom and dad. They’re quite havey”, balas Aaron. Sally menutup pintu bagasi dan segera berjalan masuk ke pintu depan penumpang. “Did you buy something for me?”, tanya Sally. Aaron tersenyum. “You don’t have to ask for that, dear”, jawab Aaron. Sally tertawa senang dan kemudian mencium pipi Aaron sekilas. Lalu mobil-pun meluncur keluar dari bandara.

(to be continued)

picture courtesy of: http://www.sydney.com

by: Audie Jo Ong, February 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s