Ke Sydney, Mengejar Ci(n)ta – Part VIII

sydney

Logan sedang duduk santai di depan televisi sambil menikmati semangkok chicken noodle saat Sally meneleponnya untuk mengajak dirinya dan Margrit ke East West Café milik Roberto hari Kamis yang akan datang. “I am free. Okay. I’ll check with Margrit. I’ll let you know soon. Thanks Sal!”, demikian ucapannya pada Sally tadi. Are you ready kid? Aye aye captain! I can’t hear youuuu…terdengar suara televisi. Logan tersenyum. Sponge Bob Square Pants! Segera diambilnya dua buah bantalan dari sofa tamu lalu diletakkanya di lantai untuk dijadikan sandaran duduk.

Tidak terasa tiga puluh menit waktu berlalu dan Logan masih duduk terpaku didepan televisi sementara isi mangkoknya sudah tandas sejak dua puluh menit yang lalu. Logan sedang asik tertawa-tawa menyaksikan ulah Sponge Bob dan Patrick Star saat handphone-nya bergetar. Diraihnya segera handphone yang diletakkannya diatas sofa dibelakangnya. Nina? Keningnya berkerut. “Hello?”, sapanya. Tidak terdengar jawaban dari Nina, yang ada hanyalah isak tangis tertahan. “Hello? Nina?”, lanjut Logan lagi.  Mendadak ada sedikit perasaan tidak enak yang menyelimuti hatinya. Something wrong happened?  Terdengar suara Nina menyahut di seberang sana, “Logan…help me…Alison..she’s..”. Tangis Nina pecah ketika mengucapkan nama Alison. Logan segera menyahut, “Nina? Where are you now? I’ll come to your place. Give me five minutes, okay?”. Tidak ada sahutan. “Hello? Nina??”. Ada nada cemas dalam suara Logan. Perlahan Nina menyahuti panggilannya, “Yes I am here, Logan. I am at the hospital right now. West Wing”. Logan menjawab, “Okay I’ll come now. Wait for me there”. Logan mematikan handphone-nya, berganti baju, dan segera meluncur ke rumah sakit tempat Nina menunggunya.

Logan!”, teriak Nina begitu melihat sosok Logan. ia berlari menghampiri Logan. Memeluknya sejenak dan kemudian menarik tangannya ke ruang gawat darurat tempat Alison dirawat. Logan masih belum mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi namun ia memutuskan untuk tidak bertanya tentang hal apapun saat ini. Ketika keduanya sampai di depan ruang gawat darurat, tampak Alison tengah terbaring lemah dengan selang infus menancap di lengan kanannya. O Gosh! Pekik Logan dalam hati. Pergelangan kirinya diperban sementara wajahnya teramat pucat. Melihat Logan berdiri mematung, Nina menepuk pundaknya dan dengan berbisik ia menjelaskan, “She tried to kill herself”. Logan menoleh ke arah Nina. “She’s  what?? Why did she try to do something stupid like that??”, tanya Logan. Nina menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya, “Sssh! Mind your voice, Logan. We are in the hospital!”. Logan menutup kedua matanya dan menarik napas panjang. “I am sorry…I am sorry”.  Dibukanya kembali kedua matanya dan ditatapnya Nina. “Tell me what happened, Nina…”. Nina mengangguk sambil menelan ludah. “She was depressed. Broken hearted. Locked herself in her room for days, Logan. No eat, no drink, and refused to talk with me. Yesterday night, I was trying to talk to her. I knocked at her door, calling for about half an hour but no answer. Then I asked the security to break her door and that’s when we found her…”, suara Nina terdengar parau. Satu dua butir air mata mulai membasahi wajahnya. Logan mengulurkan saputangannya dan menyerahkannya pada Nina. “Thanks”, sambut Nina. Keduanya-pun berdiri dalam diam di depan ruang gawat darurat selama beberapa saat. Kemudian suara Logan memecah keheningan diantara mereka. “Nina, I have changed my mind”. Nina menoleh ke arah Logan. “Yes. I will not leave her anymore. I’ll be with her, Nina”. Nina menundukkan kepala sebentar, kemudian mengangkat wajahnya dan menatap Logan sambil berkata, “Are you sure, Logan? Don’t make any decision that you will regret someday”. Logan menggelengkan kepalanya. “No. I have think about it and I am very sure about this”, tegas Logan. Nina menarik napas panjang dan kemudian mengangguk kepalanya. “Good to hear that. Thanks, Logan”.

Logan mengeluarkan handphone dari saku celana panjangnya dan kemudian mencari nomor telepon Margrit. Jika beberapa menit lalu ia tampak sangat yakin untuk menyambung kembali hubungannya yang putus dengan Alison, sekarang yang tampak adalah keraguan di wajah tampannya. Ya! ia harus mengambil sebuah langkah sebelum kembali pada Alison: berpisah dengan Margrit! Logan berusaha menguatkan hatinya. C’mon Logan! Tell her your apology bla bla bla bla. That’s all! Logan menarik napas dan kemudian mulai menekan tombol sambung. Tuuuut…tuuut…..tuuuut….tuuuuut. Tidak ada yang menjawab. Redial! Tuuuut…tuuut….Hello?”, terdengar suara Margrit diseberang sana. Lidah Logan tiba-tiba terasa kelu. “Hello? Logan?”, terdengar suara Margrit memanggil lagi.  “Hi Margrit. How are you?”, akhirnya ada juga kata-kata yang keluar dari mulut Logan.  “I am fine. How are you there?”, tanya Margrit. Logan tertawa kecil dan kemudian menyahut, “I am fine too, Margrit. I am fine. Thanks”. Logan terdiam sebentar lalu kembali melanjutkan, “Margrit? I need to talk to you now. Do you have time for about five minutes? No, we don’t have to meet up. Just by phone. Can you?”. Terdengar jawaban mengiyakan dari Margrit. “Margrit. First of all I need to apologize. I was lying to you. Please Margrit. Just let me talk first, okay? Thanks”. Dan Logan-pun memulai ceritanya: tentang Alison, tentang cinta mereka, dan berakhir dengan percobaan bunuh diri Alison yang membuatnya berpikir ulang tentang hubungannya dengan Alison. “Margrit? Are you still there?”, tanya Logan. Margrit tidak menjawab. Maybe she needs time to think…well I don’t blame her... Beberapa saat kemudian terdengar suara Margrit, “Logan, thank you for explaining to me. Well yeah I agree with you. It would be good for Alison that you are being on her side at this moment and time. She needs you, Logan. And  well I think there’s nothing I could say about it”. Logan menarik napas dan kemudian menyahuti Margrit, “Thank you for your understanding, Margrit. Thank you. I don’t have any choice right now. Good bye, Margrit. Thank you for everything. I wish for your happiness. Good bye…”. Lalu Logan mematikan sambungan teleponnya. This is it! This is how it has to be ended. So help me God….

 

Alison membuka matanya. Perlahan ia menoleh ke tepi kiri pembaringannya dan disana dilihatnya Logan tengah duduk dan tertidur.  “Logan…”, panggilnya lirih. Tidak ada reaksi apapun dari Logan. Alison mengulang kembali panggilannya. “Logan..”.  Tubuh Logan bergerak lalu ia membuka kedua matanya dan mengangkat wajahnya ke arah Alison. “Hi Ali…”, sapa Logan. Alison tersenyum lemah ke arahnya. “I miss you, Logan…don’t abandon me, Logan…don’t leave me…”, suara Alison mulai tercampur dengan isak tangisnya. Logan mendekati ranjang Alison dan membelai kepalanya. “Hey sweetheart…don’t cry…forgive me…okay?…I promise you that I will never leave you again..”. Alison menatap Logan. “You promise me? You will always stay by my side?”, tanya Alison. Logan mengangguk sambil tersenyum lembut. “Yes Ali. I promise you…I promise”. Alison tersenyum dan kemudian memejamkan matanya lagi. Logan menggenggam tangan  kiri Allison. Separuh hatinya merasa lega telah menyampaikan permintaan maaf kepada Alison namun separuhnya lagi merasakan sakit karena kehilangan Margrit.

(to be continued)

picture courtesy of: http://www.sydney.com

by: Audie Jo Ong, March 2011

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s