Ke Sydney, Mengejar Ci(n)ta – Part X

sydney

Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa sudah hampir satu tahun aku tinggal dan belajar di Sydney. Dua bulan lagi studiku selesai dan aku harus segera kembali ke Indonesia untuk mempertanggung jawabkan seluruh pengeluaran keuangan yang diberikan kedua orang tuaku tercinta di Jakarta. Terlintas dalam bayanganku wajah Aaron, Sally, Logan, teman-temanku, dan Russell. Aah…betapa beratnya membayangkan diriku pergi tanpa kepastian kapan akan berkumpul dengan mereka kembali…aku menghela napas sambil terus memainkan kesepuluh jemariku di atas tuts laptop. Tiba-tiba…kruuyuk…oops! Perutku mulai keroncongan. Aku melirik jam tangan. O my God! 02.30 PM! Pantas saja lambungku sudah berteriak minta diisi. Kusimpan file thesis yang baru rampung 75% itu, kumatikan dan kututup layar laptop-ku, lalu kumasukkan dalam tas ranselku dan segera aku bergerak meninggalkan perpustakaan menuju kantin.

Di kantin masih terdapat satu dua mahasiswa yang senasib denganku: getting a late lunch. Kuduga mereka juga penderita penyakit maag kambuhan yang sering terlambat makan. Aku memesan satu porsi bihun laksa ayam dan segelas ice tea. Pilihan yang tepat jika ingin segera menderita sakit gigi!, pikirku geli. Bagaimana tidak? Kuah laksa panas dicampur dengan ice tea yang dingin… hmm…aku makan sambil sesekali membayangkan ekspresi wajah mama jika beliau melihatku memadu padankan makanan minuman dengan suhu ekstrim seperti ini.

Selesai makan aku berjalan meninggalkan kampus dan kembali ke apartemenku. Tiba-tiba handphone-ku bergetar. Aaron. Cepat kuterima teleponnya, “Hi Aaron?”. Terdengar dari seberang sana suara khas Aaron membalas sapaanku, “Hi Margrit. Good day. How are you?. Hmm…Western typical…sopan dan agak suka berbasa-basi, pikirku. Namun kalimat yang keluar ketika aku membuka mulut adalah, “I am fine, and how are you?”. Aaron menjawab, “Fine, thanks. Uhm, Margrit tomorrow we will have a dinner party at Russell’s house and he asked me to ask you to come if you have time. Do you?”. Aku terdiam. Russell? Russell memintaku datang ke rumahnya besok malam? Well…ramai-ramai tentu saja! Stupid girl!. Aku diam sejenak dan kemudian menjawab, “Tomorrow night? I think I can. What time exactly?”. Aaron menjawab, “8 PM. I will pick you up at seven fifteen, don’t worry. Okay, see you tomorrow then. Good bye”. Dan Aaron-pun segera mematikan hubungan telepon tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut dariku.

Dan esok malam-pun tiba. Aaron mengetuk pintu apartemenku tepat lima menit menjelang pukul tujuh lima belas malam. Sebuah ketepatan waktu yang selalu kukagumi dari para laki-laki negeri ini. Untung aku sudah siap sehingga kami langsung bergerak menuju rumah Russell yang jarak tempuhnya sekitar 30 menit dari apartemenku. Tampak beberapa tamu sudah berdatangan ketika mobil Aaron tiba disana. Dan Sally ada diantara mereka. Begitu melihat mobil Aaron memasuki pelataran, Sally langsung berjalan menghampiri kami. Aaron mengecup bibir Sally sekilas. Aah alangkah iri aku pada mereka….Sally kemudian menggamit tanganku dan kami bertiga masuk beriringan ke dalam rumah Russell yang ternyata cukup besar. Supaya tidak dinilai mengganggu, aku memutuskan untuk memisahkan diri sejenak dari Aaron dan Sally, dan mulai berkeliling mencicipi panganan kecil yang dihidangkan untuk para tamu. Tiba-tiba pundakku ditepuk seseorang. Aku menoleh. Logan?!  Disebelahnya tampak seorang gadis berambut pirang berombak yang tidak pernah melepaskan ekor matanya dari Logan. Hmm…she must be the girlfriend, pikirku dalam hati. Seolah mampu membaca pikiranku, Logan segera memperkenalkan si pirang tersebut. “Margrit, this is Alison, my girlfriend. Ali, this is Margrit, my friend”. Aku tersenyum ramah dan segera mengulurkan tangan untuk menyalami Ali. Namun entah kenapa aku menangkap sinar kecemburuan dalam mata birunya itu. Aku jadi serba salah. “Margrit? Where have you been??  I’ve been looking for you…”, suara Russell tiba-tiba memecah kebisuan diantara kami. Aku menatapnya bingung. Looking for me? Sejak kapan??, pikirku. Namun tampaknya Russell tidak menggubris kebingunganku. Segera ia menarik tangan kiriku lembut dan meletakkannya diatas lengan kanannya, mengangguk sopan kepada Logan dan Alison, lalu membawaku menuju meja makan besar yang diatasnya telah tersaji beberapa hidangan utama. Aku baru akan bertanya ketika ia memberi gelengan kecil sambil menepuk punggung tangan kiriku.  Aku menurut.

Setibanya di meja, Russell menunjuk salah satu kursi yang berada di dekat kepala meja. “You sit here. Near to me”, ucapnya lembut sambil tersenyum. Aku mengangguk sambil menarik kursi tersebut dan duduk manis disana sementara Russell memanggil para tamu lainnya untuk segera bergabung bersama kami di meja makan. Acara makan malam-pun tiba.

Tatkala para tamu sedang sibuk menikmati hidangan, Aaron tiba-tiba berdiri sambil mengangkat gelas champagne-nya dan berkata, “Attention everyone! May I have your attention please?…Hello?…”. Semua orang berhenti mengunyah dan mengobrol serta memusatkan perhatian pada Aaron. “I just want to thank my best friend, Russell, for such a lovely dinner tonight. Thanks, Russell!”. Semua yang hadir ikut mengangkat gelas masing-masing kearah Russell sambil berkata, “Thanks, Russell!”. Aaron memberi tanda agar semuanya tenang kembali dan kemudian melanjutkan, “Since today is a special day for Russell, though I don’t know what is it, then I would like to ask Russell to give a speech for us! Agree?! Russell please…”. Semua bertepuk tangan dan beberapa berteriak, “Speech! Speech!”. Russell tersenyum sebentar dan kemudian berdiri dari kursinya dan menyuruh mereka untuk tenang. Lalu ia-pun mulai berbicara, “Today is actually my anniversary.  And though my lovely wife, Linda, is no longer with us but I can feel that she is smiling to us now”. Tepuk tangan kembali membahana. “I realize that she wants me to continue my life. Therefore I will make a declaration tonight that starting from now on I will seriously looking for a new wife and a new mother for Todd”. Kontan saja kata-katanya tersebut disambut dengan tepuk tangan meriah dari para hadirin. “And have you find somebody perfect?”, tanya seorang perempuan bergaun biru. Russell tertawa kecil dan melanjutkan, “She doesn’t have to be perfect. I need her to love and be loved”. Lalu seorang laki-laki muda berambut hitam yang duduk di sebelah perempuan bergaun biru tadi bertanya, “And have you find one?”. perkataannya itu langsung disambut dengan teriakan-teriakan setuju dari yang lainnya. Russell menyahut, “Yes I have.  All I need now is time to let her know and think”. Semua orang saling berpandangan lalu terdengar suara Sally, “Do we know her? Is she here in this room?”. Russell tersenyum kepada Sally. “That will be my secret. Enjoy your dinner!”, ucap Russell sambil mempersilahkan para tamunya melanjutkan makan malam mereka. Aku menatap Russell sejenak dan entah kenapa hatiku terasa sakit. Dia sudah menemukan calon istrinya? O my God!….

(to be continued)

picture courtesy of: http://www.sydney.com

by: Audie Jo Ong, April 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s