Ke Sydney, Mengejar Ci(n)ta – Part XI

sydney

Sepeninggal para tamu, Russell tidak langsung menuju kamar tidur melainkan pergi ke halaman belakang dan duduk di bangku taman. Perlahan ia merogoh kantong jaketnya, mengeluarkan sebungkus rokok, mengambil sebatang rokok yang masih utuh dan mulai menyulutnya. Pfiuuuh….tampak asap mengepul keluar dari bibirnya. “Dad? What are you doing here?”. Russell menengok. Todd! Buru-buru dimatikannya rokok yang baru seperempat habis itu. “Did you smoke? You said that you are already quit!”, ucap Todd marah. Russell tertawa kecil dan kemudian berkata kepada anaknya, “I know, I know…Look! I am sorry. Forgive me?”. Todd mengangguk.  Russell merangkul pundak Todd dan kemudian mengajaknya masuk ke dalam rumah. “Dad? Do you miss mom?”, tanya Todd. Russell menjawab, “Yes, I do…Do you?”. Todd mengangguk dan kemudian bertanya lagi, “I heard that you have find someone new…is that true?”. Russell mengerutkan dahinya dan kemudian membungkukkan dirinya ke arah Todd dan menatapnya lurus. “Who told you that?”. Todd menjawab, “I heard you speaking to your guests tonight”.  Russell menutup kedua matanya sejenak sebelum berkata, “Can we talk for a while? I think I need to explain something for you”. Todd mengangguk. Russell melanjutkan, “In your room?”. Todd menangguk lagi. Russell tersenyum, lalu keduanya menaiki tangga menuju kamar Todd di lantai dua.

Todd? Yes I am falling in love with someone new. That’s true”, ucap Russell membuka percakapan saat keduanya sudah duduk berhadapan dalam kamar Todd. “Okay…I am listening”, sahut Todd sambil menatap ayahnya. Russell melanjutkan, “Don’t get me wrong. I love your mom. I love her forever. But I need to move on. I need someone to take care of me, you, us. Someone who love me and share the burden with me..”. Russell terdiam sebentar dan menunduk. Todd menyahut, “I am still listening, dad”. Russell terbatuk-batuk kecil seperti tersedak sesuatu. Melihat hal itu Todd segera berdiri menghampiri ayahnya dan menepuk punggung ayahnya perlahan. Russell mengangkat tangan kanannya sambil mengangguk perlahan kepada Todd. “I am okay, Todd. I am okay. Thank you”. Todd kembali duduk berhadapan dengan Russell. Tampak ia menunggu kelanjutan penjelasan dari ayahnya. Russell menarik napas sebentar dan kemudian melanjutkan, “This woman. I met her three months ago in a coffee shop. She’s a friend of my friend. Single, early thirty, Indonesian”. Russelll mengucapkan kata terakhirnya dengan penekanan khusus sambil menatap kedua mata anaknya. Todd tetap tidak bergeming. “Continue”, pinta Todd. Russell melanjutkan, “Okay. Her name is Margrit and she is a student in..”. Kalimat Russell belum juga selesai ketika Todd memotong, “I know her! She’s the one with the white shirt and gray trouser, right? I saw her. She’s beautiful..and nice!”. Todd tersenyum sejenak lalu melanjutkan, “Does she know that you like her? Does she love you back?”. Russell menggelengkan kepalanya. “Nope!  She doesn’t know anything. I don’t have guts to tell her. I even didn’t know her phone number or address”. Todd memandang ayahnya dan tersenyum. “Ow daddy. You are pathetic! Well, let me help you!”. Russell menatap anaknya sambil tertawa kecil lalu berkata, “Thanks, little buddy. Truly appreciated. Hey! How about having some ice cream down stairs?”. Mata Todd melebar karena senang. “Cool! Let’s go!”. Lalu keduanyapun keluar dari kamar Todd dan setengah berlari menuruni tangga menuju pantry di lantai bawah.

Todd tertidur di kursi dapur setelah menghabiskan gelas es krimnya yang kedua. Perlahan Russell membangunkan dan memapah putra tunggalnya itu ke kamar. Setelah membaringkan Todd di tempat tidurnya dan menarik selimut menutupi tubuh Todd, Russell-pun mematikan lampu kamar dan menutup pintu kamar Todd, lalu segera menuju kamarnya sendiri. Setiba di kamar, Russell menghampiri meja kerjanya. Dinyalakannya laptop dan segera diceknya inbox email-nya. Dua emails baru! Pertama, undangan dari panitia pameran lukisan di Brisbane untuk melakukan analisa terhadap beberapa lukisan sebelum pameran diadakan. Interesting. Kedua, dari Aaron. Russell membaca secara menyeluruh email dari Aaron dan kemudian mengulang kembali paragraf terakhir dalam email tersebut:  It could be great if we can invite Margrit to join with us next month before she flies back to Jakarta.  Russell menatap layar laptop-nya dan membaca ulang sekali lagi paragraf terakhir tadi. So Margrit will be going home?? Ithink I gotta do something quick!, ucapnya dalam hati. Segera dibalasnya email Aaron: Hi Aaron! Ok, I agree. We’ll take Margrit on the trip. Btw can I ask her number? I think I need to ask her something. Dibacanya ulang lalu dihapusnya kalimat terakhir dan diketiknya lagi: Btw can you give me Margrit’s number?. Ya! ini lebih tepat. Jangan memancing pertanyaan yang tidak ingin dijawab. Ditekannya tombol send, lalu dimatikannya laptop dan pergi tidur.

Hari baru menunjukkan pukul 05.15 ketika Russell membuka matanya pagi itu. Ow crap! gerutunya dalam hati. Rupanya ia lupa menutup vertical blind dari salah satu jendela kamarnya sehingga sinar matahari yang menyilaukan masuk menerobos dan membangunkannya dari tidur.  Perlahan Russell bangun, menegakkan punggungnya, lalu berjalan menuju kamar mandi. Lima menit kemudian ia telah duduk didepan laptop kerjanya dan mulai membalas beberapa email baru yang masuk. Hm? Belum ada balasan dari Aaron, pikir Russell. Lalu ia-pun mulai menyibukkan diri dengan pekerjaannya dan tenggelam dalam tumpukan laporan analisa lukisan di London beberapa waktu lalu.

Satu jam kemudian: Tring! Satu email baru masuk dari Aaron. Segera dibukanya email tersebut, dibacanya sekilas dan….aha! Margrit’s number! Segera dicatatnya dalam memori handphone-nya: +614501XXXXX. Russell tampak terdiam sejenak, mengusap cambangnya, lalu mulai mengetik pesan di handphone-nya: “Hello Margrit. It’s me, Russell. How are you?”. Russell berhenti sebentar kemudian memutuskan bahwa kalimat tersebut cukup. Send. Russell meletakkan kembali handphone-nya diatas meja kerja lalu berdiri dan berjalan keluar dari kamar. Dihampirinya sejenak kamar Todd. Kosong. Dituruninya tangga demi tangga dan melangkahkan kakinya menuju pantry. Dua orang pelayan yang sedang berada disana segera menyapanya, “Good morning, sir”. Russell membalas sapaan mereka dan kemudian bertanya kepada salah satu dari mereka. “Did you see Todd?”.   “He went to school, sir. About an hour ago, sir”. Russell mengangguk sambil menenggak kopi hitamnya. “Did he eat his breakfast?”, tanyanya lagi. “Yes sir!”, sahut sang pelayan lagi. Russell-pun berlalu menuju kamarnya sambil tidak lupa mengucapkan “Thank you” dan meninggalkan cangkir kopinya yang telah kosong di atas meja pantry.

(to be continued)

picture courtesy of: http://www.sydney.com

by: Audie Jo Ong, April 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s