Ke Sydney, Mengejar Ci(n)ta – Part XII

sydney

Hello Margrit. It’s me, Russell. How are you?”. Kutatap layar handphone-ku dan kubaca ulang pesan yang terpampang disana. Tumben si Russell, pikirku agak bingung. Namun tak urung kubalas juga pesan tersebut. “Hi. I’m fine. How are you?”. Send. Kupegang handphone-ku sekitar dua menit tapi balasan dari Russell tidak kunjung datang. Well, he’s the one who’s asking me. Lalu kuletakkan handphone diatas meja rias dan aku-pun berjalan menuju kamar mandi.

Sepuluh menit di kamar mandi ternyata mampu menyegarkan tubuh dan pikiranku yang terasa agak penat sejak beberapa hari terakhir ini, dan karena pagi ini aku memang tidak berniat pergi kemana-mana maka segera kukenakan celana pendek t-shirt favoritku. Bedak dan cologne! Yup…kedua hal tersebut adalah kebutuhan dasar yang harus kupenuhi setelah mandi. Aku bergerak menuju meja rias dan tampak handphone-ku berkedap kedip. One New Message. Kutekan tombol Read dan tampak tertera disana pesan dari Russell: “Just thinking about you and wondering whether we could have lunch together today?”. Aku mengernyitkan dahi. Lunch? Today?  Segera kuketik: “Lunch sounds okay. Where?”.  Tidak lama kemudian kuterima jawaban Russell: “I want to have sushi for lunch. Do you like it?”. Aha! Sushi! My favorite…tanpa berpikir dua kali aku langsung menjawab: “Deal! Let me know the place. I’ll be there at 12”. Russell-pun segera membalas dengan memberi informasi rinci mengenai nama dan alamat restoran tersebut. Aku tersenyum. Entah kenapa hatiku mendadak riang…take it easy, girl….it’s just a lunch!

Keretaku tiba di pusat kota Sydney beberapa saat sebelum pukul 12 siang. Aku berjalan mengikuti rute yang diberitahukan Russell kepadaku. Tidak sampai 15 menit tibalah aku di sebuah restoran Jepang. Sambil tetap berdiri didepan restoran tersebut, aku mengirim pesan pada Russell: “I’m here. Where are you?”. Ternyata Russell sudah menunggu didalam! “Rasai Mase…”, sapaan selamat datang khas Jepang langsung berkumandang begitu aku menginjakkan kaki ke dalam restoran. Kuedarkan pandanganku ke seluruh ruangan dan tiba-tiba tampak seorang laki-laki dalam balutan jeans dan sport jacket melambaikan tangan kearahku. Russell? O my God! He looks great! Aku membalas lambaiannya dan berjalan kearahnya sambil tersenyum. Jantungku mulai berdebar tidak beraturan. Take a deep breath…exhale…dan kemudian genggaman hangat tangan Russell merusak semua sistem pertahanan yang tengah kubangun.

Russell mempersilahkanku duduk berhadapan dengannya, lalu ia menanyakan apakah aku familiar dengan menu disini dan ingin segera memesan sesuatu. Aku mengambil daftar menu yang diulurkan Russell dan mencoba memusatkan perhatian pada nama dan jenis makanan yang tertera disitu. Tapi tidak ada satupun yang melekat di kepalaku! Dan sepertinya Russell memahami situasiku. Ia memanggil pelayan yang berdiri tidak jauh dari tempat kami duduk dan sambil menanyakan satu dua hal kepadaku, ia memesan beberapa menu yang menurutnya tepat untuk kusantap. Thank you, handsome…ucapku dalam hati.

Tidak sampai tiga menit, semua menu pesanan kami telah terhampar diatas meja dan tanpa membuang waktu kami langsung menyantapnya. Russell membiarkanku makan dengan tenang. Tidak ada satupun pertanyaan yang ia ajukan. Sekilas aku melirik kearahnya tanpa mengangkat wajah, dan ternyata ia juga melakukan hal yang sama. Spontan wajahku bersemu merah dan aku langsung membuang pandanganku kearah lain. Russell menyodorkan sebuah piring kecil berisi sepasang tuna salad diatasnya. Aku menolak dengan halus, “No, thank you. I am full”. Russell tertawa kecil dan menyahut, “You are? I don’t think so”. “Yes I am! I’m full”, tegasku. Russell tertawa lagi dan kali ini ia menanggapi dengan, “I don’t think you are. You are a bright young woman”. Aku menatapnya bingung sambil kedua bibirku membentuk huruf “O”. Lalu kesadaranku-pun kembali. Aku tertawa. “Ow I got it! hahaha…”. Russell tersenyum sambil melanjutkan, “See? Now you agree with me”. Suasana diantara kami-pun mulai mencair, dan beberapa menit kemudian komuniikasi diantara kami mulai lancar…thank God!

Sehabis makan, Russell mengajakku berjalan kaki menyusuri China Town. “I heard that you will be flying back to Jakarta soon..is that right?”, tanya Russell. Aku tidak langsung menjawab. Perlahan, sambil memasukkan kedua tanganku kedalam saku jaket, aku mulai membuka suara. “That was the plan. My parents want me to going home for a while”, jawabku ragu. “I see…will you come back to Sydney?”, tanya Russell. “I hope so…we’ll see…”, jawabku perlahan meski dalam hati aku berteriak: “O yes of course honey! All you need to do is just ask me to stay!”.

“Ice cream!”, aku berteriak senang ketika melihat restoran ice cream kesukaanku. Tiba-tiba aku tersadar. I’m with Russell!  Cepat aku menengok ke arahnya. Russell sedang menatapku sambil tertawa kecil. Oops! Russell  menatapku dan bertanya, “Wanna go in and try?”.  Aku jadi gelagapan karena malu. “Is it okay with you? Because if you don’t want then we can just go”, jawabku berbasa-basi karena sebenarnya aku sangat ingin masuk kedalam sana. Tanpa menjawab pertanyaanku, Russell segera menarik tanganku dan beriringan kami memasuki restoran ice cream tersebut. “Hello Sir! How are you? where’s Todd?”, sapa pelayan restoran ramah. Aku bingung: woow..sampai hafal nama Todd? Berarti ini resto langganan mereka dong ya?? Oops! Dengan cepat Russell memesan ice cream-nya dan kemudian si pelayan tersebut bertanya. “And for the lady?”. Russell menyentuh punggungku dan berkata, “Give her a banana split. I think that’s what she wants”. Aku menatap Russell sambil tersenyum dan mengangguk. Si pelayan menatapku sekilas lalu kemudian menulis pesanan kami. Ketika aku sedang sibuk mencari dompet dalam tasku, Russell memegang tanganku dan berbisik, “Let me treat you this time”. Aku menatap wajahnya sebentar dan kemudian mengangguk sambil berkata, “Thank you”. Russell mengedipkan sebelah matanya kearahku. Dug! Jantungku nyaris berhenti berdetak.

Kami duduk di satu-satunya tempat duduk yang masih kosong, yang terletak di pojok ruangan. Russell menyuap ice cream mocha-nya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Aku berusaha menenangkan diri dengan menekuni banana split-ku yang entah kenapa terasa sangat sulit tertelan. Tiba-tiba Russell menyodorkan sendok ice cream-nya kepadaku. “Try this one. it’s my favorite”. Tanpa bertanya aku langsung memakan rum raisin ice cream yang ia sodorkan. “Nice?”, tanya Russell. Aku menangguk. Russell kemudian menyendok sedikit banana split-ku dan kemudian memiringkan kepalanya. Aku tertawa sejenak melihat tingkahnya sebelum kemudian menyadari kebodohanku. O my God! I was eating his ice cream from his spoon!! What if… what if he…..Aku memejamkan mataku sambil merutuki diri sendiri: stupid girl! Russell menyentuh tanganku. “Are you okay?”, tanyanya. Aku menatap Russell dan mengangguk: “Yes, I am fine. What?”. Russell menggeleng. “Nothing..I thought that you might up to something so you close your eyes. No?”. Aku menggeleng dan menyahut dalam hati, “That something is you, sir…”

 

(to be continued)

picture courtesy of: http://www.sydney.com

by: Audie Jo Ong, May 2011

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s