Ke Sydney, Mengejar Ci(n)ta – Part XIII

sydney

Russell memasuki kamarnya malam itu dengan perasaan yang sulit digambarkan. Sesaat sebelum menaiki tangga menuju lantai atas, ia sempat berpapasan dengan Cody, sang buttler, yang menanyakan apakah ia sudah makan malam atau belum, dan Russell menjawab, “Yes I have. Thanks, Cody!” sambil tersenyum riang. Cody-pun menyahuti, “Seems your dating went quite well, sir”. Russell berhenti sebentar dan kemudian sambil memutar matanya jenaka ia menanggapi dengan, “It did! Thanks for asking!”. Cody tersenyum melihat tingkah polah majikannya yang sudah setahun menduda itu sambil berucap dalam hati: Hope he finds the right one soon. Cody-pun berlalu ke kamarnya setelah mematikan lampu pantry.

 

Russell duduk diatas tempat tidurnya sambil memandangi kaca rias yang terpampang lebar di hadapannya. Bibirnya membentuk sebuah senyuman. It was not bad, pikirnya senang, I should ask her out again this weekend. Tanpa berpikir dua kali segera dihampirinya meja kerja dan mengambil handpone serta mulai mengetik pesan. Namun baru 3 huruf ditekannya, tiba-tiba handphone-nya memberi tanda bahwa ada New Message. Segera disimpannya pesan yang tengah diketiknya dan dibukanya pesan masuk tersebut. Margrit? Pikirnya senang. Dibacanya perlahan sms dari Margrit: “Hi Russell. Thank you for tonight. It was really fun! 🙂 Btw if you have free time this weekend, would you mind going out with me to the cinema?”. Russell membaca pesan tersebut sambil tertawa kecil.  Ohoho…this is a real dream comes true!, pikirnya senang. Tanpa ragu-ragu ia segera me-reply sms tersebut: “Hi..It’s nice to hear that you were enjoying our date”. Wajahnya tampak ragu. Date? It’s not officially a date. Nope.  Segera dihapusnya empat kata terakhir tersebut dan mengetik kembali: “time together today. About the weekend, sounds perfect to me :)”. Dibacanya sekali lagi keseluruhan pesan tersebut dan langsung ditekannya tombol Send.

Dad? Daddy…dad? Wake up!”. Suara Todd membangunkan Russell dari tidurnya pagi itu. Ditatapnya wajah mungil putra semata wayangnya. “Hey sweetheart..What time is it now?”, tanya Russell sambil mencoba duduk. “It’s seven thirty, dad! You promise me to have breakfast outside. Remember??”, tanya Todd dengan nada yang mulai meninggi. “O yeah I remember. Gosh! Ok.  Five minutes. Wait here! I’ll be right back!”, sahut Russell sambil berlari ke kamar mandi. Todd memandangi punggung ayahnya dengan wajah agak kesal. What time did he go to bed last night?

Lima menit kemudian…”Ok let’s go!”, Russell mengajak Todd segera berlari menuruni tangga menuju pintu keluar sambil bersiul-siul. Todd mengikutinya dari belakang dengan wajah yang menyimpan tanda tanya. Why he’s so excited?? Weird!, ucap Todd dalam hati.

Russell dan Todd berjalan beriringan menuju restoran siap saji yang terletak sekitar lima menit berjalan kaki dari sekolah Todd. Mereka tampak membahas sesuatu secara serius dan kemudian keduanya tergelak bersama. Entah apa yang sedang dibahas. Sepuluh menit kemudian, Russell dan Todd memasuki restoran. Todd memesan big cheese burger plus coke favoritnya sementara Russell tetap stick pada honey dew pancake dan espresso kegemarannya.  Keduanya duduk makan dengan tenang sambil menikmati  hidangan diatas meja mereka. Tiba-tiba Russell menengok jam tangannya dan berkata, “Todd, it’s eight fifteen! Hurry up!”. Tanpa basa-basi Todd langsung memasukkan gigitan terakhir burger-nya yang cukup besar untuk kapasitas mulutnya, dikunyahnya segera lalu ditelannya dengan paksa. Lalu….uhuk uhuk uhuk! Todd terbatuk-batuk karena tersedak. Untunglah Russell bereaksi cukup  cepat dengan memukul perlahan punggung anaknya dan setelah itu menyodorkan segelas coke untuk ditenggak Todd. Pfiuh!

See you, dad!”, teriak Todd sambil melambai saat memasuki pintu gerbang sekolah. Russell mengangkat tangan kanannya membalas lambaian Todd. “Bye sweetheart!” . Russell menunggu sampai Todd menghilang ke dalam gedung sekolah lalu ia berjalan menuju café milik Roberto.

“Hey Russell…good morning. Double shot?”, sapa Roberto ketika melihat Russell memasuki pintu café. Russell tertawa kecil, “Morning Roberto! Just a regular latte please”. Roberto tersenyum dan kemudian mengangguk sopan. Russell berjalan menuju sebuah sofa dekat bar. “Good morning, Roberto!”, suara merdu seorang perempuan dari arah pintu depan mengejutkan Russell. Cepat diliriknya sumber suara tersebut. Sally! Russell berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Sally, “Morning ma’am”. Sally menoleh dan langsung tertawa, “Heeey…how are you?”, sapa Sally sambil mencium kedua pipi Russell.  “I am fine. How are you too? Where’s Aaron?”, Russell balik bertanya. “He’s in Paris. He’ll be here next week. So how’s the progress?”, tanya Sally. Russell tidak menjawab dan hanya tersenyum simpul. Sally langsung menanggapi, “Aha! Good, isn’t it? tell me…”. Russell menggeleng sambil tersenyum dan menenggak latte-nya. Tidak terima diperlakukan demikian, Sally mendesak, “Oh c’mon!”. Russell tertawa dan kemudian menyahut, “Wait until next week. Ok?”. Wajah Sally berubah masam. Russell menepuk pundak Sally, “We will have another date this weekend”. Sally langsung menyahut, “Wauw…that’s great! I’m happy for you!”. Russell tersenyum sembari bibirnya membentuk kata “thank you” tanpa mengeluarkan suara.

Setelah Sally pergi, Russell-pun kembali ke mejanya untuk mengambil jaketnya yang tadi ia letakkan diatas bangku. Saat Russell berbalik hendak keluar dari café, seseorang masuk dan mereka hampir saja bertabrakan. “Sorry!”. Keduanya mengucapkan kata tersebut secara bersamaan. Russell langsung tersenyum cerah begitu melihat sosok didepannya, sementara Margrit terdiam di tempat. Refleks Russell memeluk Margrit dan mencium kedua pipinya sambil mengucapkan sapaan standart, “How are you?”. Margrit  menatap Russell sejenak dan kemudian mengangguk perlahan tanpa mampu berkata apa-apa. Lupa dengan niat awalnya untuk ke toko buku, Russell menggandeng tangan Margrit dan kembali memasuki café Roberto.  Demi melihat keduanya berjalan bersama, Roberto tertawa sambil menyapa Margrit, “Hello Margrit! Ccaramel macchiato?”, yang dijawab Margrit dengan sebuah anggukan kecil, lalu Roberto berpaling kepada Russell  dan mencandainya, “Hey Russ! I thought you are in a bit rush today! Coming back?”.  Russell tertawa kecil sementara Margrit langsung bersemu merah.

What are you doing here?”, tanya Russell ketika keduanya telah mengambil tempat duduk yang terletak agak di pojok ruangan. “Coming for a coffee”, jawab Margrit singkat. Russell terdiam sebentar lalu keduanya tertawa bersamaan. “Yeah of course! it would be surprise for me if you are coming for books!”, sahut Russell. Margrit hanya tersenyum mendengarkan tanggapan Russell. “Any plan after coffee?”, tanya Russell. Margrit menggeleng. “No plan but lunch. And maybe a little walk to the book store. Just take a look. No buying”. Russell mengangguk-angguk sambil menatap Margrit tanpa menyadari bahwa tatapan tersebut berakibat buruk pada perempuan muda itu: Margrit tersedak dan terbatuk-batuk tanpa sebab…

    

(to be continued)

picture courtesy of: http://www.sydney.com

by: Audie Jo Ong, May 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s